Jadi, begitulah nostalgia rekan Rusdin Tompo, mengingatkan kembali kepada saya begitu banyak aktivitas yang dilakukan pada masa lalu. Ini terjadi karena saya banyak terlibat dalam berbagai interaksi dengan tidak sedikit orang. Ini jdiuntungkan oleh posisi saya sebagai seorang jurnalis yang mengharuskan banyak berhubungan sejumlah orang.
Tidak pernah ada yang membayangkan bahwa seorang yang mengakui pertama kali saya wawancarai itu akan “menjadi orang” di bidang yang menjadi minatnya. Dari rekam digitalnya, pada tahun 2017, RT diabadikan di dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” oleh Yayasan Hari Puisi. Itu tidak lepas dari aktivitas kepuisiannya yang cukup sarat.
Di samping sebagai penyair dan penulis, RT – yang kemudian menjadi sapaannya — Pak RT — dalam salah satu acara di RRI Makassar sejak tahun 2015 – pernah memimpin Lembaga Investigasi Studi Advokasi Media dan Anak (LISaN), menjabat Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sulsel 2011-2014, setelah empat tahun sebelumnya menjabat Komisioner KPI. Juga pernah memimpin Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel. Atas keterlibatannya dalam berbagai kegiatan tersebut RT pernah memperoleh Anugerah Makassar Award pada tahun 2016 dari media online “Kabarmakassar.com”.
Dalam kegiatan literasi, RT termasuk yang membidani lahirnya Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Sulawesi Selatan dan menjadi koordinatornya. Dia mengaku, sudah mulai menulis sejak duduk di kelas 5 SD. Jadi, tidak heran kalau menulis menjadi pekerjaan yang membuatnya tidak pernah berhenti berpikir. (MDA).












