Kepo (3-Habis): Nostalgia Maba Pak RT

Saya berhenti mendengar siaran itu, di tengah suhu dingin pegunungan yang mengapit desa, bertepatan dengan terdengarnya musik pamit RRI. Saat mendengar musik itu ruang imajinasi saya melankolis. Membayangkan seperti apa Kota Makassar, tempat siaran radio idola saya ini dipancarkan. Saya tidak pernah bermimpi bahwa suatu saat nanti (1971) akan “terdampar” di kota yang kerap disebut Anging Mammiri ini dan memutuskan menetap sebagai salah seorang warganya.

Kisah Rusdin Tompo ini benar-benar “membangunkan” ingatan saya yang nyaris hilang.

Hingga saat ini, saya tetap menjadi “bagian keluarga RRI Makassar”. Selain menjadi narasumber untuk bidang-bidang olahraga, pers dan media, serta pendidikan, saya selalu menyempatkan “live report” (laporan langsung) kegiatan yang saya ikuti. Ke mana pun saya pergi, saya akan mengirim pesan ke RRI Makassar bahwa sedang mengikuti suatu acara dan ingin melaporkannya. Dalam beberapa menit ke depan, teman-teman di RRI Makassar langsung mengontak melalui jaringan telepon ke telepon genggam saya. Sehingga, dapat dipastikan, RRI Makassar menjadi media pertama yang menyiarkan informasi tersebut. Kalau bukan satu-satunya.

BACA JUGA:  Kedai Kopi, Teori Tempat Ketiga, dan Ruang Kreativitas

Apa yang saya lakukan ini sebenarnya merupakan satu ungkapan yang saya sampaikan ketika berlangsung satu diskusi panel di RRI Makassar awal tahun 1990-an. Ketika itu, yang bertindak sebagai pembicara, selain saya, adalah Prof.Dr.A.Muis, S.H. (alm.), salah seorang pakar hukum komunikasi dan kolomnis tetap Haria Kompas. Pada kesempatan itu, saya menyemangati teman-teman angkasawan RRI Makassar khususnya, tidak perlu gamang dan galau dengan kemunculan banyak stasion TV swasta yang menjamur.

“Anda semua, angkasawan RRI adalah sosok-sosok yang tidak dapat ditinggalkan dalam meniyiarkan informasi di republik yang terdiri atas belasan ribu pulau ini,” kata saya.

Mengapa, kata saya, orang dapat mendengar radio di mana pun. Di darat, di gunung, dan di laut, dan di mana saja, sepanjang pesawat radionya bisa menangkap siaran, tetap akan dapat mengikuti siaran radio tanpa harus memerlukan peralatan tambahan seperti yang dituntut pada TV.

“Nelayan bisa mendengar radio sambil menunggu pancingnya disambar ikan. Pengemudi mobil dapat terhibur oleh musik dari berita-berita actual radio di tengah kemaceten arus lalu lintas kota. Jadi, tidak perlu galau,” kata saya waktu itu.

BACA JUGA:  Rahman Rumaday Mahasiswa Penjelajah Kampus Akhirnya Wisuda Juga

Mendengar pandangan yang sama sekali tidak berlandaskan teori itu, Prof. Muis pun membenarkan statemen saya.
“Ya benar juga yang dikatakan Pak Dahlan,” katanya pendek.

Namun, yang paling berkesan dalam interaksi dengan RRI Makassar adalah ketika saya membawa mahasiswa KKN Unhas ke Pulau Miangas Sulawesi Utara, beranda terdepan Indonesia yang hanya 48 mil di selatan Filipina (dari Manado, 324 mil — sekitar 521 km). Dalam pelayaran Km Meliku Nusa, kapal perintis yang hanya 500 ton, menuju Tahuna, Ibu Kota Kabupaten Sangir Talaud, tepat di samping Gunung Karangetan, saya melakukan siaran langsung dengan RRI Makassar. Saya memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk memberikan kesan-kesannya tentang perjalanan laut yang tidak mudah ini menuju pulau terdepan tanah air.

Dua hari setelah tiba di Pulau Miangas, dengan telepon Nokia E90, saya mengontak teman-teman di RRI Makassar bahwa saya sudah tiba di Pulau Miangas. Pada kesempatan itu rombongan mahasiswa sedang mengunjungi Gunung Keramat, tempat beberapa buah meriam Portugis tersimpan. Dalam rombongan ada Tetua Adat Miangas, Komandan Pasukan Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Lettu Inf. Arief, dan tentu saja, saya dan rekan Ir. M.Rusl, MP, sebagai dosen pembimbing. Selama setengah jam laporan langsung ini disiarkan membuat ponsel saya nyaris kehabisan ‘tenaga’. Namun, tetap ‘enjoy’. Kapan lagi dapat melaporkan langsung dari ujung negeri.