Oleh Denny JA
NusantaraInsight, Jakarta — Pagi ini, 19 Mei 2025, saya mendapat kabar: Harwieb (Harry Wibowo) telah pergi.
Langit Jakarta tampak biasa-biasa saja. Namun di dalam dada saya, sesuatu runtuh perlahan. Seorang sahabat lama, seorang aktivis-pemikir, dan pemikir-aktivis yang langka, telah kembali ke pangkuan keabadian.
Saya teringat wajahnya dalam potongan koran Kompas tahun 1986. Di halaman satu, terpampang foto kami bertiga: saya, mewakili Kelompok Studi Jakarta; Taufik Rahzen dari Yogyakarta; dan Harry Wibowo, dari Bandung.
Usia kami masih muda, antara 23 dan 26 tahun. Namun semangat kami telah menua sebelum waktunya, mengunyah wacana, memuntahkan perlawanan melalui ide.
Selama tiga hari berturut-turut, Kompas menulis tentang gelombang baru gerakan mahasiswa: dari demonstrasi ke studi, dari kerumunan jalanan ke percakapan malam yang membentuk naskah pemikiran.
Berita itu muncul sekian waktu setelah kolom saya sebelumnya di Harian Kompas. Saya menulis opini berjudul “Negara, Masyarakat, dan Mahasiswa” yang dimuat pada 11 Juni 1986.¹
Kolom itu menyatakan bahwa telah lahir generasi baru. Tak seperti aktivis 1966 atau 1970-an, kami lebih menyerupai Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sutomo. Mereka membangun bangsa dari meja diskusi, dari naskah dan gagasan.
-000-
Harry Wibowo, atau Harwieb begitu kami menyebutnya, adalah wajah khas dari gerakan itu. Di setiap pertemuan, di setiap diskusi, ia seperti tak pernah datang sendiri.
Ia membawa bersamanya pemikiran Karl Marx, Max Horkheimer, Erich Fromm, Ivan Illich, Paulo Freire. Mereka semua hidup dalam cara Harwieb berbicara.
Bandung menjadi ladang tempat dia menanam ide-ide progresif dengan cara yang elegan. Ia bukan tukang teriak, tapi pemantik bara.
Bicaranya tenang, penuh kutipan, namun suaranya membuat ruang menjadi sunyi. Karena kami tahu, kami sedang menyimak seseorang yang bukan hanya membaca buku, tapi dihidupi oleh buku.
Kala itu orang luar menyebut generasi kami “perpustakaan berjalan.” Dan Harwieb adalah jilid lengkapnya.
Ia pembaca setia Pedagogy of the Oppressed. Ia meyakini pendidikan bukan alat domestikasi, tapi alat pembebasan. Dalam pikirannya, mahasiswa tak cukup sekadar turun ke jalan. Ia harus turun ke akar gagasan. Jika tidak, ia hanya jadi megafon, bukan mercusuar.
Dari 1986 hingga 1991, saya dan Harwieb kerap bertemu. Di sudut warung kopi atau ruang seminar yang pengap, kami membangun dunia. Lalu saya melanjutkan studi ke Amerika. Tujuh tahun terlewat.
Dan ketika saya pulang, arah hidup kami menyebar, namun mata air asalnya tetap sama.












