Sebagai pustakawan, beliau senang karena mendapat sejumlah pengalaman berharga. Misalnya, mendapat gelar Pustakawan, di mana beliau diutus Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan mengikuti Diklat Fungsional Calon Pustakawan Tingkat Ahli (CPTA) di Palu, Sulawesi Tengah, dengan anggaran dari Perpurnas RI. Beliau berkesempatan mengikuti workhshop, Bimtek, dan seminar terkait perpustakaan yang diadakan oleh Perputakaan Provinsi. Juga pernah mendapat penghargaan dari Wali Kota Makassar sebagai peserta terbaik pada seminar dan beda buku.
Ada beberapa upaya yang dilakukan Hj Hartini untuk meningkatkan minat baca. Antara lain, memberikan buku-buku yang sesuai dengan kegemaran dan minat anak-anak. Memberikan motivasi dengan membuat kuis berhadiah sebagai apresiasi kepada siswa. Juga mengadakan diskusi di ruang perpustakaan, terutama terkait minat pemustaka. Cara-cara kreatif dan inovatif memang perlu dilakukan untuk membudayakan kegemaran membaca. Beliau selalu mengisi waktu-waktu kosong di perpustakaan, dengan memberikan motivasi, bagaimana meningkatkan kegemaran membaca dan minat baca siswa.
Selain itu, beliau membuat jadwal rutin 2 kali kunjungan masuk ke perpustakaan setiap pekan. Lomba baca puisi dan lomba mengarang dilakukan juga setiap saat sebagai salah satu pendekatan. Juga mengadakan kegiatan membaca bersama seluruh warga sekolah, baik guru, pegawai dan siswa, pada setiap hari Sabtu. Ada pula pembudayaan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, dan membentuk pojok baca, baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Bahkan, terkadang, beliau menularkan semangat literasi kepada masyarakat, membawa buku-buku untuk dibaca bersama. Untuk menambah kegembiraan, beliau menyediakan hadiah bagi yang bisa menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan.
Hj Hartini, selalu bersemangat jika berbicara tentang perpustakaan dan dunia literasi yang digelutinya. Perpustakaan SMP Negeri 2 Bontonompo, berada di Kelurahan Kalase’rena, yang juga merupakan kampung halamannya. Perpustakaan ini berdiri sejak 6 Oktober 1994. Pada masa awal, keadaan ruangannya masih kecil dengan koleksi buku yang masih kurang, terutama buku penunjang, referensi, fiksi dan non fiksi. Pada tahun 2017, perpustakaan tersebut sudah mengalami perubahan dengan menempati ruangan yang baru dan koleksi buku yang semakin bertambah. Namun, bagi Hartini, meski ada perubahan, perpustakaannya itu masih butuh sarana yang baik dan koleksi yang banyak sehingga pemustaka semakin bersemangat dan termotivasi untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah.
Hartini menyadari, tantangan yang dihadapi pustakawan dan perpustakaan di era digital. Sehingga, perpustakaan sekolahnya membuat beberapa pengaturan. Beliau, misalnya, membuat program perpustakaan yang membatasi anak-anak membawa handphone ke dalam perpustakaan. Dengan adanya Program Merdeka Belajar, beliau tetap membuat jadwal kunjungan ke perpustakaan bagi peserta didik dan kegiatan pojok baca.
“Alhamdulillah sangat perhatian dalam hal pembelian buku paket.” Itu jawaban yang diberikan Hartini, ketika ditanya, bagaimana bentuk perhatian pimpinan (Kepala Sekolah) terhadap Perpustakaan SMP Negeri 2 Bontonompo. Untuk memajukan perpustakaan, katanya, perlu menyediakan anggaran pembelian buku paket secara bertahap sesuai kebutuhan peserta didik.
Dari jumlah koleksi buku bertema sejarah dan budaya Gowa, yang kurang lebih hanya 20 eksemplar, tampak bahwa perpustakaan sekolah masih butuh tambahan koleksi. Buku-buku itu, antara lain “Sultan Hasanuddin”, “Tumanurung ri Gowa”, “Karaeng Manuju”, “Balla Lompoa”, “Karaeng Galesong”, “Raja Gowa”, “Perjanjian Bongaya”, dan “Sisilah Satu Rumpun Gowa”. Disyukuri karena, baik buku baru maupun lama, semua terawat dengan baik. Beliau lalu menyebut buku-buku terkait sejarah Gowa, serta buku-buku tentang tradisi dan budaya di Gowa yang masih sangat diperlukan sebagai bacaan penunjang. Salah satu penyebab, minat baca anak rendah terhadap buku muatan lokal ini, diakui karena kurangnya koleksi buku bertema sejarah dan budaya Gowa di perpustakaan sekolah. Disampaikan bahwa bentuk dukungan stakeholder terhadap perpustakaan sekolah masih kurang karena faktor komunikasi dan waktu.












