“Sejak tahun 2013, saya berjualan di sini, memanfaatkan waktu libur,” jelas ibu berhijab tersebut.
Hasriani yang warga Pallangga itu, mengaku hanya memanfaatkan pohon pandan yang banyak tumbuh di belakang rumahnya di Sanrangang.
Tanaman itu, kata dia, tumbuh sendiri. Pandan ini memang mudah dijumpai di pekarangan atau tumbuh liar. Walau banyak juga yang dibudidayakan. Akarnya besar dan memiliki akar tunggang yang menopang pohonnya bila sudah tumbuh besar.
Daun pandan memanjang seperti daun palem dan tersusun secara roset yang rapat. Panjangnya bisa mencapai 60 cm. Tanaman ini daunnya kadang bergerigi. Pandan termasuk tanaman monokotil dari famili Pandanaceae.
Selama berjualan, Hasriani dan Saripa ngobrol sembari menunggu pembeli. Selama itu pula, Hasriani terus menganyam ketupat. Sementara Saripa berdiri menanti pembeli singgah.
Hasriani memulai pekerjaannya dengan membelah daun pandan yang panjang, lalu dibagi 4 helai. Selanjutnya, dengan cekatan tangannya membentuk helai-helai daun itu menjadi ketupat.
Dia bercerita bahwa keterampilan membuat ketupat itu diperoleh dari ibunya, Rani Daeng Nginga. Dia diajar oleh ibunya cara membuat ketupat kala masih SD.
“Awalnya sulit juga membuatnya. Kadang jadi tapi bentuknya tidak bagus. Karena terbiasa, lama-kelamaan bisa mi,” terang Hasriani.
Dia hanya membuat satu macam ketupat dari daun pandan. Sehari dia bisa menyelesaikan 50 buah. Ketupat yang sudah jadi itu dijual dengan harga Ro15.000 per ikat. Seikat, ada 10 buah ketupat.
Ketupat pandan buatan Hasriani selalu laris. Semakin mendekati Lebaran, semakin banyak pembeli. (*)
Oleh: Rusdin Tompo (penulis, pegiat literasi)












