Tidak terasa matahari mulai tenggelam. Langit Minasa Upa berwarna oranye pucat. Saya menatap jam di HP, pukul 18.00. Waktu magrib hampir tiba, dan saya harus bersiap untuk menghadiri rapat komunitas di salah satu rumah makan di daerah Alauddin.
Sebelum berangkat menuju titik serlok dimana lokasi rapat berlangsung. Saya menunaikan shalat magrib terlebih dahulu di musholla mungil kafe itu. Setelah berdoa, saya kembali ke meja, merapikan tas, jaket, dan sisa ubi goreng yang sudah dingin. Thai tea saya habiskan dalam satu teguk terakhir rasanya sudah hambar, tapi menyisakan kenangan tentang waktu yang berlari pelan.
Di luar, motor Beat merah saya sudah menunggu setia. Si kuda besi, begitu saya memanggilnya. Ia saksi banyak perjalanan, banyak diam, dan banyak pulang. Saya tersenyum kecil sebelum menekan tombol starter. Dalam hati saya berucap, “Bismillah, ayo kita berangkat lagi.”
Perjalanan menuju Alauddin tidaklah mudah. Macet, asap, dan lampu jalan yang temaram membuat mata saya perih. Suara klakson bersahutan seperti orkestra tanpa konduktor.
Saya sempat berucap lirih, “Mungkin pemerintah sedang menguji kesabaran rakyatnya.”
Saya tertawa kecil di atas motor tertawa atas hidup yang kadang lucu dengan caranya sendiri.
Dalam kepadatan itu, saya teringat pesan Ali bin Abi Thalib, *_”Kesabaran dalam menghadapi kesulitan adalah seperti kepala bagi tubuh. Tanpa kepala, tubuh tak berarti.”_*
Saya menarik napas panjang. Menyusuri jalan dengan sabar, dengan pikiran yang tak ingin ikut macet.
Jalaludin Rumi pernah menulis, *_”Ketika kamu melewati jalan yang gelap, percayalah, cahaya sedang disiapkan untuk menyambutmu di ujung jalan.”_*
Saya tersenyum di balik helm. Barangkali benar bahwa lampu jalan yang redup itu pun sedang berusaha, dengan caranya sendiri, menerangi sedikit bagian dari dunia ini. Seperti manusia tak harus sempurna untuk memberi cahaya.
Sekitar 10 menit kemudian saya tiba. Rumah makan itu ramai. Suasana rumah makan itu unik. pilar-pilarnya seperti istana Arab kuno, tapi dindingnya dari anyaman bambu seperti rumah kampung. Saya duduk, menarik napas panjang setelah menembus padatnya jalan.
Di meja sudah tersaji berbagai menu, termasuk sayur bening dan cumi mereka hafal saya tidak makan nasi. Saya tersenyum kecil, merasa diperhatikan dengan cara sederhana. *_”Rezeki bukan hanya apa yang kita makan, tapi siapa yang makan bersama kita.”_*~ Ali bin Abi Thalib:
“Bang Maman, ayo makan dulu baru rapat,” kata seorang teman sambil tertawa.
Kami semua tertawa. Aroma cumi dan bumbu bawang menyeruak di udara. *_“Setiap makanan adalah rahmat, setiap rasa adalah peringatan bahwa hidup masih memberi kesempatan.”_* ~Kata Jalaluddin Rumi,












