Fans Sebagai Indikator Rating Siaran Radio

Radio
Rusdin Tompo

Radio juga punya cara untuk mengetahui pendengar melalui riset yang dilakukan Nielsen, sebuah perusahaan yang fokus pada penelitian dan layanan riset dengan memberikan informasi terkait pemasaran, periklanan, dan konsumen media. Dari hasil riset mereka, kita bisa mengetahui psikologis, sosiologis, dan selera konsumen.

Meski sebagai broadcaster, kita tidak selalu bisa melihat hasil riset ini. Namun, dari pengalaman diajak membaca datanya, disampaikan oleh pimpinan bahwa rating yang tampak pada data mengasumsikan 1 (satu) pendengar yang muncul di data, mewakili 100 (seratus) pendengar.

Penjelasan sederhana ini dapat dipahami mengingat tidak semua pendengar radio merupakan pendengar aktif. Pendengar aktif ini maksudnya, pendengar yang rutin menelepon atau berkirim lagu, atau aktif dalam siaran-siaran interaktif. Sebab, banyak juga orang mendengarkan radio tapi tidak pernah datang langsung ke studio dan tidak pernah menelepon dalam satu program acara sekalipun.

Dari sebaran penelepon yang masuk ke studio atau dalam program siaran tertentu, sebenarnya kita bisa mengetahui segmen acara, lokasi tempat tinggal, tingkat pendidikan dan sebagainya. Sebagai informasi, kantong-kantong pendengar Radio Venus tak hanya di Kota Makassar, tapi juga di Gowa, Maros, dan daerah lain di Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:  Runtuhnya Pilar Negara : Ninabobokan atau Gulingkan Saja!

Banyaknya fans membuat mereka membentuk komunitas Venus Fans Club. Mereka datang ke studio Radio Venus di Kompelsk Permata Hijau Blok L Nomor 9, tak hanya untuk urusan berkirim-kirim lagu. Mereka juga bersosialisasi dan berinteraksi dengan penyiar dan sesama pendengar dan penggemar Radio Venus. Bahkan mengadakan event, baik yang terkait dengan Radio Venus maupun hanya untuk kalangan mereka sendiri.

Adakalanya fans bermain di studio sampai malam hari. Mereka ngumpul dan ngobrol di ruang depan atau terkadang di bagian dalam, bila hari libur.

Bagi kami, para penyiar, tempat ngobrol  yang disukai itu di halaman belakang. Di situ ada dapur, dan ada tempat duduk yang menghadap ke tower. Di halaman belakang yang cukup luas ini, sering dimanfaatkan menanam jagung, ubi kayu, dan ubi jalar.

Dari tanaman yang ada di halaman belakang ini, kita bisa melihat efek radiasi pada perbedaan tinggi tanaman. Meski ubi kayu, yang bibitnya dibawa oleh Kak Vincen dari Maumere, ditanam bersamaan, tapi tumbuhnya berbeda, makin dekat ke tower tanaman kian kerdil. Sebaliknya, makin jauh dari tower makin tinggi.

BACA JUGA:  Green Tea & Bunga Reportase Kehidupan “Tiga Rasa”

Pada malam hari, kami penyiar-penyiar baru, kadang dapat kursus gratis tentang bagaimana memahami lagu, dan perangkat studio dari para senior, biar ala-ala DJ.

Danu Wiratmaja, penyiar senior, yang spesialis siaran malam, mengajari kami mengenal lagu yang bisa dipangkas intronya, atau menarik lagu pelan-pelan secara fade out, lalu disambung dengan lagu lain. Kecepatan tangan untuk mengganti iklan ke lagu atau ke iklan berikutnya, dia termasuk salah satu yang piawai. Istilah teman-teman, patte-patte’-nya mantap.