Apalagi bila penyiar tersebut merupakan favoritnya. Hubungan fans dan penyiar ini bukan cuma akrab di udara, tapi juga dalam kehidupan nyata.
Secara profesional pun sejatinya mereka saling membutuhkan. Fans butuh penyiar agar request lagu dan namanya disenggol di udara. Penyiar butuh fans sebagai bukti bahwa siarannya didengar.
Pada era saya masih di Radio Venus, pertengahan 90an, fans bisa menelepon ke studio atau bertandang langsung dengan datang ke studio. Selain datang sendiri-sendiri, ada juga fans yang datang dalam jumlah beberapa orang. Ini biasanya anak-anak SMA Negeri 9, yang rumahnya di Perumnas Tamalate dan Tidung, atau di Karunrung.
Di studio, nanti akan ada yang mencatatkan pesanannya atau dia mencatat sendiri bila sudah di studio.
Catatan pada kertas ukuran kecil itu berupa, nama pengirim lagu, kepada siapa lagu itu ditujukan, dan apa pesannya. Nama-nama fans radio saat itu banyak yang menggunakan nama samaran bukan nama asli.
Nama-nama seperti Mantili, Ayu Andira, Brama Kumbara, dan lain-lain sering didengar di udara. Ada juga yang menggunakan nama asal daerahnya, misalnya Putri Enrekang, dan lain-lain. Fans itu sangat kreatif.

Ada beberapa program hiburan yang menggunakan konsep mengirim lagu dan pesan kepada sesama fans nanti dibacakan oleh penyiar.
Jumlah penelepon dan pemesanan lagu melalui kertas tadi, akan jadi parameter acara itu banyak pendengarnya atau tidak.
Terkadang, menjadi problem dan sekaligus sumber ketegangan saat rapat, bila ada teman yang bertugas atau berada di line telepon, lebih asyik mengobrol dengan penelepon (fans) daripada bekerja sebagai penerima telepon. Namun, situasi ini tidak lama, ya sudah saling memahami hehehe.
Setiap radio itu punya segmentasi, punya target SES (socio-economic status), yakni cara untuk mengelompokkan individu atau pendengar berdasarkan status ekonomi sosialnya.












