Ekspedisi K-Apel di Pangkep “Mengandung Bawang” (2)

“Ku ingat waktu ku kecil di kampung ini, saya pergi mi tanam padi sama bapakku kodong,” ucap ibu Heny yang mulutnya tak berhenti mengucap syukur kepada sang pencipta karena keindahan yang terlihat.

Jalan yang dilalui merupakan pematang sawah yang sengaja dilebarkan hingga 3 meteran, sehingga satu unit mobil dapat melaluinya.

Sesekali juga terlihat ada rumah penduduk yang kami lewati bahkan ada juga rumah penduduk yang membangun rumah permanen bahkan terbilang mewah di tengah hamparan itu.

Saya berfokus pada google map yang jadi panduan, namun di layar gadget, ujung panduan terlihat sepertinya jalan terpotong yang membuat saya ragu akan jadi “salah alamat”.

“Bar.. singgah dulu di depan, saya bertanya dulu. Gappaka salah jalan Ki bela,” pintaku kepada Akbar yang langsung menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah yang kebetulan ada tiga orang bapak yang sepertinya lagi mengaso setelah bekerja.

“Tabe, Pak, di mana itu SD Terapung ?,” tanyaku
“Iye, terus maki saja, di sana itu ada pembelokan kiri, masuk maki di situ,” jawab salah seorang bapak sembari berdiri menunjukkan arah menuju SD Terapung.

BACA JUGA:  Menulis Itu Butuh Imajinasi dan Daya Kreasi

“Masuk ji mobil, Pak,” tanya ku meyakinkan.
“Iye, pak, masuk ji mobil,” jawabnya meyakinkan ku.

Setelah mendapatkan kepastian bahwa arah kami benar, kami kemudian berjalan kembali mengikuti arahan bapak tadi.

Setelah melewati jalan beraspal yang belakangan ku ketahui bernama Jalan Boddia, kami mulai memasuki jalan tanah yang masih terlihat becek akibat hujan kemarin dan SDN 61 Terapung terlihat nun jauh di sana.

Mindaku sejenak berkelebat, “bagaimana jika hujan ?, bagaimana anak-anak ini pergi sekolah ?, bagaimana para guru pergi menjalankan tugas, jika kondisinya becek begini ?”

“Hujan, jalan bececk, tidak ada ojeck,” pikir ku mengingat gurauan artis Cinta Laura yang membuat ku tersenyum sendiri.

Jalan yang kami lalui menuju sekolah ternyata lebih sempit dari jalan menyusuri Empang tadi. Sekelas Andi Akbar saja yang telah beberapa kali mengikuti Slalom test cukup hati-hati mengendarai mobil. Selain jalan sempit, juga jalannya becek dan berlumpur, slip sedikit yah silahkan mandi di Empang.

Akan tetapi lebih kurang 50 meteran dari sekolah, kami mendapati jalan yang telah dicor beton hingga ke halaman sekolah, walaupun ukuran jalannya yang begitu sempit. Dari betonnya yang terlihat masih kokoh dan bersih, sepertinya bangunan jalan cor beton ini masih sangat baru.

BACA JUGA:  RABITHAH CINTA DALAM UKHUWAH

Kejauhan terlihat Kepala SDN 61 Terapung Pattallassang Ibu Murni, S.Pd beserta satu orang guru pendamping telah menunggu di teras sekolah yang terbuat dari papan.