Di Bawah Suasana #2 Urgensi Pemajuan Keislaman, Perempuan, Desa, dan Literasi

Kisah-kisah yang dibagikan Kak Khaeria memukau para pendengar. Dengan nada bicaranya yang tenang namun penuh keyakinan, ia membawa hadirin ke dalam kehidupan perempuan-perempuan desa yang penuh dengan tantangan. Seperti sosok Ibu Asmi, seorang wanita yang telah berjuang melawan stereotip di desanya dan menjadi penggerak perubahan dengan membangun perpustakaan kecil untuk anak-anak. Atau kisah Ibu Sumiati yang dengan ketabahan luar biasa mempertahankan kearifan lokal dalam bercocok tanam, menjaga tanah leluhurnya dari tangan-tangan yang ingin mengubahnya menjadi lahan komersial.

“Perempuan Desa Bercerita,” program yang digagas oleh Kak Khaeria, menjadi platform bagi perempuan-perempuan ini untuk berbagi dan menguatkan satu sama lain. “Setiap kisah yang diceritakan adalah kekuatan, dan kita harus mendengarkannya,” katanya lagi, suaranya tegas meski matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Para hadirin, yang sejak tadi khidmat mendengarkan, terlihat mengangguk setuju. Ada sesuatu yang menggetarkan, ketika cerita-cerita ini disampaikan dengan penuh kejujuran dan ketulusan.

Namun, acara ini tidak hanya berhenti di sana. Di sudut Siring Bambu, sebuah lapak buku yang sederhana namun penuh makna juga berdiri. Lapak ini adalah inisiatif Rumah Buku, sebuah komunitas literasi di Desa Bontonyeleng yang tak henti-hentinya menyebarkan semangat membaca di pelosok desa. Tumpukan buku dari berbagai genre, mulai dari literatur agama hingga cerita rakyat, tersedia bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan atau sekadar menikmati sejuknya suasana sore sambil membaca.

BACA JUGA:  Mari Mendiagnosis Suara Capres dan Parpol Pemilu 2024

Lapak ini bukan sekadar tempat untuk membaca. Ia adalah ruang pertemuan gagasan, tempat di mana para pengunjung bisa berdiskusi tentang apa saja: dari nilai-nilai agama hingga isu-isu sosial yang dihadapi desa mereka. Di tengah tumpukan buku-buku itu, terselip semangat perubahan yang dimulai dari literasi, dari selembar halaman yang menginspirasi, hingga pembicaraan yang membangkitkan kesadaran.

“Rumah Buku hadir untuk membawa lebih dari sekadar bacaan,” ujar Musakkir Basri, salah satu penggerak komunitas tersebut. “Kami ingin literasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menjadi kekuatan yang memberdayakan setiap individu di desa ini.”

Harapan kedepannya, semoga kegiatan seperti ini bisa menjadi ruang baru untuk orang desa belajar dan berbagi cerita. Kami juga memiliki rencana kedepannya kegiatan ini dapat bertumbuh secara organik. Menjadi ruang alternatif bagi siapa saja untuk berbuat dan menanam suasana. Sebab suasana hari memberi alarm baru untuk terus melangkah dan melanjutkan Di Bawah Suasana #3 nantinya. Ujar Aedil Faizin.