Fachrudin lihat prinsip-prinsip yang mendasari sikapnya, memang kuat. Pak Amiruddin senantiasa memiliki dan memelihara objektivitas dengan disertai nalar yang tajam.
Jadi, Fachrudin tidak melihat adanya perbedaan-perbedaan menonjol dari dua masa dan tempat kepemimpinannya.
Paling jauh yang berbeda hanya langkah-langkah taktis yang dia tempuh untuk memecahkan persoalan.
Misalnya, pelaksanaan perubahan pola pikir sewaktu di kantor gubernur berbeda dengan saat dia di Unhas. Meskipun dinamikanya cukup tinggi, perubahan pola pikir itu relatif kecil ruang lingkupnya.
Berbeda halnya ketika dia menjadi gubernur. Di situ dia menghadapi suatu masyarakat luas yang tidak bebas dari segala macam unsur masyarakat dan kepentingan politik.
Apalagi kualitas sumber dayanya tentu lain. Tetapi pada dasarnya, prinsipnya tidak banyak berubah.
Hal ini biasa juga Fachrudin cek pada teman-teman “orang pemerintahan” yang lain. Mereka mengatakan bahwa Pak Amiruddin “terbuka”. Kalau ada gagasan, asal memiliki analisis yang cukup baik, dia akan menutup diri untuk mendiskusikannya. Ini tentuFachrudin amati dalam kedudukan sebagai Ketua Bappeda.
Menjadi pendamping sebagai Ketua Bappeda, agar berbeda “jangkauan kedekatan” dengannya. Tidak seperti waktu di Unhas sebagai Pembantu Rektor II yang selalu mendampingi di bidang administrasi.
Di pemerintahan, sebagai Ketua Bappeda, saya selalu membatasi diri di bidang perencanaan. Fachrudin tahu diri bahwa harus memberikan kemampuan maksimal dalam ruang lingkup yang terbatas pula.
Hal-hal seperti ini yang diinginkan dia, sehingga menarik Fachrudin. Mungkin Pak Amiruddin berpikir, karena di Unhas Fachrudin membantunya, maka dia merasa perlu dia ke perencanaan. Kebetulan, posisi tersebut sedang “kosong” karena Pak Parawansa menjadi Sekwilda. Jadi, waktu itu ada dua orang “ditarik”, Fachrudin dan Pak Burhamzah. Fachrudin sebagai Ketua Bappeda, sementara Burhamzah sebagai Direktur BPD.
Biasanya ada orang yang merasa cocok dalam satu tim untuk tahapan-tahapan tertentu dalam suatu kesempatan. Semacam “the winning team”, barangkali.
Begitulah kami ketika itu.’
Sepanjang ingatan Fachrudin, Pak Amiruddin tidak banyak mengarahkan harus “begini-begitu” karena langsung tahu misi yang mau dikerjakan.
Kami sudah terbiasa bekerja sama untuk pengembangan “segala macam” di Unhas, terutama waktu menyusun perencanaan kampus baru dan rencana induk kampus (RIK).
Bagaimanapun, itu adalah pengalaman perencanaan. Jadi, mungkin Pak Amiruddin beranggapan bahwa meskipun Unhas ruang lingkupnya kecil, namun setidaknya Fachrudin mempunyai pengalaman sedikit dalam menyusun perencanaan.












