Benda-benda itu merupakan barang vintage, bila dilihat dari usia dan keasliannya. Saya menakar, usianya rerata di atas 50-an tahun.
Benda-benda yang menyedapkan mata itu mencermintan gaya, tren, gengsi, dan kualitas terbaik pada zamannya.
Secara filosofis, vintage berkaitan dengan penghargaan terhadap otentisitas waktu, kualitas pengerjaan pada masa lalu, serta koneksitas nyata terhadap sejarah.
Berbeda dengan benda-benda retro, yang sekadar meniru gaya, estetika, dan tampilan visual masa lalu, tetapi sesungguhnya merupakan produksi masa kini.
Benda retro sekadar hendak bernostalgia, membangkit kenangan lampau pada objek baru. Ini semacam sisi romantisisme penikmatnya.
Bagi saya, benda-benda jadul itu lebih dari sekadar barang dalam arti fisik. Ia adalah sejarah, produk budaya populer, status sosial, dengan segala cerita di baliknya. Ia kian memikat lantaran ditata apik, dengan komposisi, yang menunjukkan kualitas seni tangan dingin pemiliknya.
Itu baru soal koleksi yang jadi pajangan dan dekorasi Steya Coffee. Belum lagi soal tempatnya, yakni bangunan di mana lokasi ini dapat ditelusuri melalui Google Maps.
Alamatnya mudah dicari. Penandanya: pohon mangga yang jadi peneduh di bagian depan, dan bendera Merah Putih panjang yang membentang di pagarnya.
Namun bukan itu yang memanggil saya, ringan melangkahkan kaki ke sana untuk memesan segelas kopi susu dan pisang peppe.
Alamat kedai kopi ini berada di wilayah Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar–kampung halaman orangtua saya.
Bekas rumah kami di Jalan Letjend Hertasning 45B, hanya beberapa meter dari kedai itu. Sehingga, setiap kali ke Steya Coffee, saya seolah pulang ke kampung Kassi-Kassi. (*)












