“Bacalah!,” malaikat itu berkata.
“Aku tidak dapat membaca,” jawab Muhammad.
Muhammad kemudian menuturkan.
“Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernapas. Kemudian dia melepaskanku dan berkata.
”Bacalah”.
Kujawab,” Aku tidak dapat membaca”.
Ia mendekapku lagi hingga aku pun merasa tersesak. Ia melepaskanku dan berkata.
“Bacalah”.
Dan kembali kujawab,” Aku tak dapat membaca”.
Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya, melepaskanku dan berkata.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakanmu!
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar manusia dengan pena (qalam),
Dan mengajar kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.(QS.96:1-5
Muhammad mengulangi kata-kata yang diucapkan malaikat itu, yang kemudian meninggalkannya.
“Sepertinya kata-kata itu tertanam dalam hatiku,” kata Muhammad.
Beliau takut, jangan-jangan telah menjadi penyair yang terilhami jin dan orang yang kesurupan. Oleh sebab itu, dia meninggalkan gua. Di tengah jalan menuruni tebing, beliau mendengar suara di atasnya.
“Hai Muhammad engkau utusan Allah dan aku Jibril,” terdengar suara yang membuat Muhammad menengadah ke arah langit. Di sana beliau melihat tamunya. Masih dapat dikenalnya, namun sekarang jelas dalam rupa malaikat, memenuhi seluruh cakrawala.
“Hai Muhammad, engkau Rasulullah dan aku Jibril,” dia berkata yang membuat Muhammad berdiri terpaku menatap malaikat tersebut.
Muhammad berpaling dari malaikat, namun ke mana pun beliau memandang, ke utara, ke selatan, ke timur, ke barat, malaikat selalu ada di sana, menapak di cakrawala. Akhirnya, malaikat itu pergi. Nabi kembali menyusuri tebing menuju ke rumahnya.
“Selimuti aku! Selimuti aku!,” seru Muhammad kepada Khadijah, istrinya yang menyelimuti Muhammad dengan tubuh gemetar merebahkan dirinya di dipan.
Dipenuhi rasa cemas, namun tidak berani bertanya kepada beliau, Khadijah cepat-cepat membawakan selimut dan menyelimutinya.
Muhammad menceritakan semua yang dialami kepada istrinya. Khadijah pun pergi menceritakan yang didengarnya kepada sepupunya, Waraqah yang waktu itu telah sepuh dan buta.
“Quddus. Quddus (Yang Maha Suci). Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, yang mendatangi Muhammad adalah ‘Namus’ (sebutan kuno yang digunakan orang Nasrani di masa lalu untuk Malaikat Jibril yang artinya “sosok gaib yang dipercaya membawa rahasia Tuhan (wahyu) atau “pemegang rahasia”) yang terbesar, yang dulu juga mendatangi Musa.
Sungguh, Muhammad adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkanlah dia!,” kata Waraqah.












