Serasa Narasi Verbal: Catatan Kecil atas “Ana Makassar Basar di Ambon” Rusdin Tompo

Kata /dolo/ merupakan reinkarnasi kata Indonesia /dulu/. Kata /deng/ dalam bahasa Ambon merupakan perubahan dari kata /dan/ dalam bahasa Indonesia. /Barat sakali/ dari /berat sekali/.

Ada juga penyingkatan kata /sudah/ menjadi /su/, /pi/ dari kata /pergi/, /deng/ dari /dengan/. Juga terjadi perubahan fonem pada suku kata kedua dengan melesapkan konsonan pada akhir kata. Seperti pada kata /lebih/ menjadi /lebe/. Dialek Ambon juga mengenal pelesapan konsonan akhir kata seperti pada kata /sala/ dari kata /salah/.

Di dalam dialek Ambon juga mengenal pelesapan bunyi diftong (vokal rangkap), misalnya kata /sampe/ dari /sampai/, /kalo/ dari /kalau/,

Unsur pembeda yang signifikan dalam dialek Ambon juga dibentuk melalui bunyi suprasegmental, yakni bunyi yang dapat mengubah arti. Termasuk di dalamnya dengan intonasi pada kata tertentu. Misalnya, kata /tinggiiiiii…/ dengan intonasi suara yang khas yang melengking.

Jadi secara linguistik dialek Ambon sangat menarik diteliti. Namun yang jelas pada saat mengajarkan variasi atau ragam bahasa saya selalu mencontohkan ragam dialek dengan menyebut dialek Betawi, juga Ambon dengan bunyi kata bahasa Indonesia yang menjelma menjadi kata dalam dialek Ambon.

BACA JUGA:  Cukur Sumpah Pemuda, Janggut Kumis Habis

Buku “Ana Makassar Basar di Ambon” ini lebih merupakan antologi memoar seorang Rusdin Tompo, bukan sebuah autobiografi. Cerita yang tertuang di dalamnya adalah rekaman kepingan pengalaman hidup yang tidak berurut secara kronologis. Jika boleh disebut, isi buku ini merupakan sebagian perjalanan hidup penulis selama di Ambon yang dipilih secara acak dan memberi kesan memorial tertentu.

Melihat penggalan kisah ini, buku ini memang berseri. Seperti diakui sendiri oleh Rusdin Tompo dalam ungkapan menjelang acara diskusi bukunya dimulai. Jika buku ini bercerita “Ana Makassar Basar di Ambon”, mungkin saja buku berikutnya berjudul “Kisah Anak Makassar. Tentu saja kita akan “dijamu” dengan dialek Makassar. (*).