Saya mungkin lebih merasa nikmat mendengar permainan dialek Ambon jika Rusdin Tompo membaca isi karyanya. Sebab, ada nuansa yang berbeda di benak dan telinga pendengar saat menyimak intonasi pada kata-kata tertentu yang memberi kesan dan pemaknaan spesifik. Inilah yang menjadi kelebihan dialek Ambon yang saya rasakan selama ini. Entahlah kalau teman-teman yang lain.
Jika membandingkannya dengan dialek Betawi (Jakarta), dialek Ambon mungkin akan menempati petingkat kedua atau ketiga di Indonesia sebagai ragam bahasa yang paling menonjol dan populer digunakan oleh komunitas di wilayah geografi tertentu. Di Indonesia, selain kedua dialek itu, yang juga tidak kalah populer adalah dialek Batak/Medan dan Manado serta Makassar. Dialek-dialek tersebut memiliki ciri khas tersendiri.
Dialek Ambon/Maluku sebenarnya menurut pendapat saya, jauh lebih kaya dan bervariasi. Dialek yang terdiri atas frasa atau diksi yang digunakan merupakan turunan dari kata-kata bahasa Melayu/Indonesia yang diberi ‘perlakuan’ tertentu. Secara linguistik, dialek Ambon/Maluku ini menarik diteliti. Banyak sekali variasi yang kita temukan sebagai penjelmaan bahasa Indonesia menjadi dialek Ambon.
Kita mencatat beberapa kata: misalnya kata /lai/ merupakan pelesapan konsonan akhir pada kata /lain/. ‘Katong’, merupakan akronim /kita orang/ yang mengalami perubahan bunyi fonem /i/ menjadi /a/ hingga menjadi /kat/ dari kata /kita/ yang dilesapkan fonen atau bunyi /a/. Lalu diambil /ong/ pada kata /orang/ yang ‘disingkirkan’ fonem/konsonen /r/ agar dapat membangun sebuah akronim /katong/.
Begitu juga dengan kata /dong/ yang merupakan akronim dari /dia orang/. /Dia/ hanya diambil konsonen /d/ dan /ong/ pada kata /orang/ yang konsonen /r/ ‘diasingkan’. Proses pembentukan akronim /dong/ ini prosesnya sama dengan pembentukan /katong/. Misalnya dalam kalimat “Namanya juga pedagang, ‘dong bajual’ ‘seng’ (tidak) jauh-jauh dari aktivitas pembeli.
Ada juga perubahan awalan /ter/ menjadi /ta/. Misalnya pada kata /takurung/ dari /terkurung/ dan /talalu/ dari kata /terlalu/, /bajalan/ dari kata /berjalan/ yang mendapat imbuhan fonem/konsonan /g/, hingga berbunyi /bajalang/.
Kata /pung/ merupakan kata /pun/ yang juga diberi tambahan konsonan /g/. Begitu pun pada kata /bermain/ menjadi /barmaeng/, terjadi perubahan awalan /ber/ menjadi /bar/ dan kata /main/ menjadi /maeng/, /berteman/ menjadi /batamang/.
Pada kata /bale/ merupakan penjelmaan kata /balik/ yang berubah bunyi pada fonem akhir /e/. Pada kata /sandiri/ merupakan perubahan fonem /e/ pada kata /sendiri/. Demikian juga halnya dengan kata /karja/ dari /kerja/, kata depan /ka/ dari /ke/, /basar/ dari /besar/, /sadikit/ dari kata /sedikit/, /tampa/ dari /tempat/, /maso/ dari kata /masuk/.












