Serasa Narasi Verbal: Catatan Kecil atas “Ana Makassar Basar di Ambon” Rusdin Tompo

NusantaraInsight, Makassar — “Sejak ‘kacil katong su’ dengar ‘carita’ yang berbau mistik. Kadang ‘sangaja’ disampaikan untuk ‘kasi tako katong’. Misalnya,’kalo lia’ botol ‘kacil deng kaeng sapotong bagantung’ di pohon yang lagi ‘babua’. Itu artinya, ale jang sambarang kore deng ambel buanya’. Bisa-bisa ‘poro bangka’ (perut bengkak).

Botol ‘kacil’ yang dililit ‘kaeng’ merah ‘tagantung’ di pohon itu, orang Ambon bilang ‘akang matakao’. Beta ;seng tau’ isinya apa saja. “Seng parna pareksa to’. Tapi karena ‘su kasi inga bagitu katong parcaya to’. Hikmahnya, ‘katong’ jadi sadar supaya ‘jang ambe’ orang ‘pung’ barang tanpa izin. Kearifan lokalnya di situ.”.

Dua paragraf kisah ini saya kutip pada halaman 54, buku “Ana Makassar Basar di Ambon” karya Rusdin Tompo yang didiskusikan di Museum Kota Makassar, Senin (22/12/2025). Tiga pembahas, Dr.Zulkarnain Hamson, S.Sos., M.Si (Akademisi dan Jurnalis Senior), Pendeta Michael Matulessy (Pendeta CBI Blassed Family Church), dan Yudhistira Sukatanya (Edy Tamrin), Sastrawan dan Budayawan, dipandu Diarmila.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (4): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Diskusi membincangkan buku 195 halaman ini dipadati oleh para akademisi, sastrawan, budayawan, seniman, sastrawan, dan pegiat literasi. Selain komentar terhadap buku, juga ditampilkan sejumlah pembaca puisi, termasuk seorang seniman panggung Luna Vidya yang mengubah suasana menjadi sangat berubah “dramatis-puitis”.

Membaca buku ini, saya teringat saat kunjungan saya yang pertama ke Ambon pada tahun 1990. Satu perjalanan jurnalistik untuk menulis satu cerita panjang memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-415 Kota Ambon. Sore hari, saya langsung menikmati acara makan “patita” di dekat Patung Pahlawan Nasional Martha Christina Tiahahu (MCT). Saya harus mendeskripsi dua informasi ini biar jelas, Makan “patita’ dan sosok Martha Christina Tiahahu.

Makan “patita” merupakan tradisi makan bersama khas Maluku yang menghimpun banyak orang. Mereka menikmati hidang tradisional dalam semangat kekeluargaan tanpa sekat agama dan kepercayaan. Acara ini sering digelar pada perayaan adat atau hari penting. Menu yang disajikan, ikan asar, papeda, dan singkong rebus yang mencerminkan filosofi “Ale rasa, beta rasa” (rasa kamu, rasa saya). Namun ketika itu, saya juga menikmati pisang dan kacang rebus, sambil berjongkok. Berbaur dalam suatu barisan panjang warga yang berhadap-hadapan.

BACA JUGA:  Catatan Cerpen ‘Ibu Gaib’ M.Amir Jaya Ilmu Ayah, Huruf “H” & “Dia Fana” yang Penasaran

Makna makan “patita’ mempererat persaudaraan. Berbagai dan menciptakan kebersamaan, dan salah satu bentuk pelestarian budaya. Makanan beragam jenis itu saat saya menikmatinya, diletakkan di atas aspal yang dilapisi dengan daun pisang. Biasanya acara makan bareng ini berkaitan dengan acara “Pela Gandong”. Namun yang saya hadiri adalah berkaitan dengan HUT ke-415 Kota Ambon.