Yusril pun menambahkan,”Silakan mau diteruskan ini, atau presiden lebih baik mengundurkan diri saja”. Komentar Yusril itu diprotes seorang menteri yang menyayangkan dia berbicara seperti itu.
“Saya akui, kadang saya salah juga. Saya sempat berpikir sombong, “orang ini kan menjadi presiden gara-gara saya mundur”.(hlm.756). (Kisah mundurnya Yusril jadi calon presiden inilah yang saya tulis berdasarkan kisah adik Hamdan Zoelva yang ada di buku yang saya tulis).
Enam bulan setelah Yusril dipecat, Megawati jadi presiden.
“Siap-siap saja. Besok kembali lagi ke tempat yang kemarin,” kata Megawati melalui telepon suatu sore. Yusril sudah tahu akan kembali menjabat Menteri Kehakiman.
***
Seorang aktor politik, Ibu Aisyah Amini menawarkn Yusril ke Gus Dur atas kerelaan mundur dari pencalonan presiden waktu itu.
“Mas Yusril menjadi Ketua Mahkamah Agung saja!,” kata Gus Dur.
“Emang Presiden bisa menentukan Mahkamah Agung?,” kata Yusril.
“Loh, ga bisa ya?,” balas Gus Dur. Ha..ha..
***
Tahun 2004 berbeda situasi. Menjelang pencalonan Susilo Bambang Yudhoyono, Yusril terlibat dalam percakapan di balik layar, kemudian politik ini diucapkan lebih gamblang.
“Kalau saya mau maju sih mau saja, tapi yang membiayai siapa?,” kata Yusril.
Pertanyaan itu telak. SBY berpikir.
“Gimana kalau Pak Jusuf Kalla?,” kata seorang utusan yang datang untuk untuk kedua kalinya.
Yusril hanya tersenyum mengenang momen ini.
“Jawabannya singkat, ada yang mau maju, pasti ada duitnya,” tulis Yusril. (197). Nah, begitulah buku setebal 882 halaman ini yang berjudul “Untold stories” (tak terceritakan) ini bercerita. (*).












