Jumpa Srikandi KM Tilongkabila; (2) Selat Bali, Tes Pertama Sebagai Pelaut

Srikandi
Dari kiri: Muh.Luthfi Ardiansyah (Markonis), Penulis, Nur Azizah Muhidin, dan Capt.Subair (Nakhoda KM Tilongkabila).

Hanya saja kalau penumpang sedang padat, ramai, seperti saat arus mudik dan arus balik, kegiatan membersihkan kapal dilaksanakan setelah penumpang turun. Di kapal tidak boleh ada kotoran. Jangankan tikus, kecoak pun tidak boleh ada. Begitu pun jika ada personel yang santai-santai biasa dia ingatkan dengan tugasnya.

“Mungkin ada juga bawahan yang bilang, kenapa Jenang II ini marah-marah terus,” kata Azizah sembari tertawa.

Sebagai seorang Kepala Departemen Pelayanan dan Permakanan, Azizah memiliki bawahan yang berusia lebih tua dari dirinya. Ada yang berusia 40-50 tahun yang tentu saja memiliki banyak pengalaman. Dalam situasi seperti ini, dia tidak gengsi menimba pengalaman dari mereka yang lebih tua di posisinya.

“Sebagai orang baru, saya tidak sungkan-sungkan belajar dari pengalaman mereka . Kita tidak boleh gengsi untuk bertanya,” kata Azizah.

Pada saat “high session” (padat penumpang), tingkat pengawasan di kapal juga harus ditingkatkan. Selalu ada sistem keamanan lingkungan (siskamling) kapal yang bertugas secara bergantian. Azizah sendiri setelah semua beres dan penumpang sebagian besar sudah pulas baru menuju kamar untuk beristirahat.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (6): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Mengisi waktu senggang di dalam pelayaran, perempuan yang hobi menulis dan menyanyi ini terkadang kumpul-kumpul di kamarnya dengan mahasiswa yang sedang praktik di kapal dan menulis laporan mengenai pekerjaannya. Mereka bisa berbagi cerita dan pengalaman masing-masing.

Jika tidak, mereka nongkrong di kafe kapal yang ada di buritan jika pekerjaan sudah tuntas. Pekerjaan Azizah ini berkaitan dengan hospitaliti (keramahtamahan) penumpang selama pelayaran.

Terkadang untuk mengobati rasa rindu, Azizah melakukan “video call” (VC — panggilan video) dengan orang tuanya di Ujung Bulu Bulukumba. Ayahnya, Muhiddin, mengalami penyakit strok sejak lama. Adiknya yang pernah bekerja di Bali, terpaksa ditarik ke Bulukumba menemani kedua orang tuanya dengan bekerja di kafe di kota Kabupaten Panrita Lopi tersebut.

Masuk ke posisi sebagai salah seorang karyawan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Azizah tidak hanya mengandalkan pengetahuan teori yang diperoleh di kampus, tetapi juga banyak terlibat dalam berbagai kegiatan penunjang. Misalnya menjadi “tour guide” salah satu biro perjalanan di Batam selama 4 bulan ketika melaksanakan praktik lapang di sana.

BACA JUGA:  Cukur Sumpah Pemuda, Janggut Kumis Habis

Hanya saja, Azizah sempat kecewa karena hajatnya ke Singapura dan paspor sudah di tangan, tidak bisa terwujud karena bertepatan dengan “lock down” gegara pandemi Covid-19 pada tahun 2021. Praktik di Batam tersebut berlangsung pada semester III.