Jumpa Srikandi KM Tilongkabila; (1) “Manajer” MBG

Srikandi KM Tilongkabila
Nur Azizah Muhidin.

Kesempatan ini dimanfaatkan penulis mengabdikan kesibukan Capt.Subair memantau kegiatan sandar kapal. Foto ini ternyata kemudian mengisi salah satu tulisan tentang beliau di dalam buku “Keteladanan dan Karamah TGKH Muhammad Hasan, B.A.” setebal 430 halaman yang penulis tuntaskan selama dua minggu di Jakarta.

Dari KM Wilis, Capt. Subair dikirim jauh ke utara, menakhodai Kapal Tol Laut yang menyambangi pulau-pulau kecil di wilayah terdepan Indonesia dengan Filipna di bagian utara. Meskipun jauh di utara sana, Penulis kerap menyapanya melalui pesan whatsapp. Kapal tol laut tersebut mengangkut kebutuhan pokok untuk masyarakat di pulau-pulau utara itu.

Setelah beberapa lama, dia dimutasi menjadi nakhoda KM Jetliner yang menghubungkan Kendari-Raha (Muna) pp. Seperti biasa Penulis sering memantau pergerakan kapal yang dinakhodai beliau menggunakan akun akun satelit maritim.

“Ass.ww. Capt. Tampaknya sedang berlayar dari Kendari ke Raha, ya,” sapa Penulis melalui WA, setelah menengok akun satelit maritim yang tersedia di gawai.

“Walaikumussalam.ww. Ya, siap, Pak Aji,” sahut beliau.

BACA JUGA:  Pak Harto Terdiam dengan Jawaban Habibie

Manajer MBG

Saat bincang-bincang di salon kapal, Capt Subair didampingi salah seorang ABK dan juga Nur Azizah M. yang menjemput Penulis sebelumnya. Dalam bincang-bincang tersebut, Nakhoda menjelaskan siapa Penulis. Beliau kemudian memberi tahu kalau di KM Tilongkabila sekarang ini sudah memiliki seorang srikandi.

“Dia ini ‘manajer’ Makanan Bergizi Gratis (MBG) KM Tilongkabila. Nanti bisa ditulis,” kata Capt. Subair dengan nada kelakar, namun Penulis menangkapnya ini juga menarik.

Pertemuan kami terpotong oleh waktu menjelang salat magrib. Pada saat berjalan meninggalkan salon kapal, Penulis memberi tahu bahwa sosok orang yang bekerja di kapal itu termasuk figur yang jarang terekspos melalui media. Kecuali media sosial.

“Nanti habis magrib bisa kita bincang-bincang,” Penulis memberi tahu Nur Azizah, kemudian kami berpisah.

Habis salat magrib di musala kapal di bagian buritan, Penulis mengirim chat ke Capt Subair agar dikomunikasikan ke srikandi-nya untuk diwawancarai.

Tak berapa lama, Nur Azizah kembali mengetuk pintu kamar 5009 yang saat itu hanya ditunggu istri. Penulis yang duduk di pojok kiri sebelum ke lorong kamar melihat perempuan 24 tahun berkulit putih ini mencari Penulis. “Curiga” kalau dugaan itu benar, Penulis pun bangun dan melihat ke lorong kamar dan berpapasan pandang dengan yang sedang mencari.

BACA JUGA:  Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan

“Saya tidak lihat tadi,” kata Nur Azizah setelah Penulis memberi tahu kalau melihat dia pergi mengetuk pintu kamar. (Bersambung).