NusantaraInsight, Jakarta — Ketika peluncuran delapan buku Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra di Balai Kartini Jakarta 7 Februari 2026, setiap undangan memperoleh delapan judul buku yang sudah tersedia di tas kain berwarna hitam besar buat tamu VVIP dan tas kain putih untuk tamu VIP.
Saya mendapat tas kain warna putih. Satu di antara delapan buku itu ditulis di dalam bahasa Inggris oleh Pak Yusril sendiri.
Pada kesempatan ini, saya ingin mengomentari beberapa informasi yang mungkin menarik bagi Anda yang tertuang di dalam buku “The Autobiography of Prof.Dr.Yusril Ihza Mahendra, Testimoni Kolega, dan Hadiah Puisi”.
Buku setebal xx+248 halaman ini dieditori oleh M.Saleh Mude dengan Tim Kreatif Prodeleader yang bertindak sebagai penerjemah, desainer, dan lay out, serta fotografer.
Yusril Ihza Mahendra boleh dikatakan sebagai orang yang mampu menjalani karier sempurna. Sebagai pegawai negeri dia berhasil merenggut jabatan akademik Profesor dengan golongan/ruang IV/d.
Eselonisasi jabatan sebagai pegawai negeri mencapai Eselon I-A sebagai Asisten Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) di era Moerdiono. Di pemerintahan, Yusril bisa mencapai jabatan menteri.
Beliau kerap ditanya mengapa tetap bertahan di partai kecil, Partai Bulan Bintang (PBB).
“Idealisme,” begitu jawaban sederhana Yusril. (hlm.7).
Dia mengakui, dirinya cenderung pada politik Islam modernis. Itulah sebabnya dia tidak pernah mau masuk Golkar atau PDI-P, meskipun berkali-kali ditawari.
Almarhum Cak Nur (Nurcholis Madjid) bahkan pernah diminta oleh Taufik Kiemas (keduanya almarhum) untuk mengajak Yusril masuk PDI-P. Dia menolak dengan halus.
“Kalau saya masuk PDI-P, jangankan orang lain, saya sendiri pun heran kenapa ada di sana,” katanya kepada Cak Nur waktu itu dan mengatakan, dia berlatar belakang keluarga Masyumi.
Sekali waktu, Yusril ada di Kantor Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) dan bertemu dengan para begawan Masyumi. Mereka adalah, Yunan Nasution, Zainal Abidin Ahmad, Syafruddin Prawiranegara, dan Anwar Harjono.
“Diskusi harian dengan mereka adalah sekolah politik yang sesungguhnya, sebuah sekolah oposisi terhadap kekuasaan. Pikiran saya tersosialisasi dengan pemikiran orang-orang Masyumi. Saya hampir saja ikut menandatangani Petisi 50,” cerita Yusril. (hlm 10).
Namun Pak Natsir, dengan kebijaksanaan seorang negarawan tua melarang kami yang masih muda-muda.
“Yang teken ini saya, Syafruddin, dan Kasman (Singodimedjo)…Saudara-saudara, jangan. Kita teken ini, kita bisa masuk dalam jurang, saudara tetap di atas, nanti bisa melemparkan tali supaya kita bisa naik (ke atas),” kata Pak Natsir, yang diucapkannya sambil tertawa dan bagi Yusril menjadi pelajaran tentang strategi hidup dan kesinambungan perjuangan lintas generasi.












