Terpaksa harus kembali ke Bima mencari pasangan dan dapat.
Muslimin dididik dan terlatih di pondok dengan disiplin yang tinggi. Dengan semangat orang Bima yang pantang menyerah. Faktor yang kedua adalah doa.
Beberapa tahun lalu, Muslimin pernah berkunjung ke Pak Kiai Guru (TGKH Muhammad Hasan, B.A., Allah yarham). Pak Kiai memberi tahu Muslimin, kalian itu berhasil berkat doa orang tua.
Pak Kiai sangat dekat dengan keluarga Pak Muslimin. Prof Thib diminta ayah untuk membina dia bersaudara.
“Kalian itu berhasil karena saya berdoa untuk kalian. Berhasil karena doa orang tua,” ungkap Pak Kiai ketika itu dan Muslimin mempraktikkan betul itu. Ketika apa pun yang akan dilakukan, pasti akan berdoa. Memberi tahu akan ujian tanggal sekian, dan sebagainya.
Ketika tes S-2, banyak sekali yang tidak lulus. Senior-senior banyak yang tidak lulus karena menerjemahkan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tengah malam, Muslimin sudah memimpikan bahwa soal ini yang akan keluar. Dia membaca dulu narasi bahasa Indonesia-nya dan itu betul yang keluar dalam ujian.
“Yang terakhir, kita harus membangun silaturahim dan konektivitas antaralumni UIN,” harapnya.
Muslimin tahu betul bagaimana karakter orang-orang Bugis Makassar, dan sebagainya. Mereka sangat kuat konektivitasnya. Betul dari Bima ada yang Guru Besar, ada yang jenderal, tetapi semua itu berjuang dengan “single fighter”. Berjuang masing-masing. Lebih banyak penonjolan, bukan konektivitas.
Alangkah indahnya, kalau kita punya sumber daya ini dieratkan dan dikuatkan konektivitasnya. Jaringan antaralumni, jaringan antarorang Bima untuk tembus pada level nasional dan internasional.
“Saya kira ini yang harus kita bangun. Bukan zamannya kita harus saling gontok-gontokan. Kalau pun ada yang terjadi dengan IAIN Bima, itu pun harus menjadi perhatian kita bahwa potensi yang besar ini harus disatukan.
Jika kita bayangkan, IAIN Bima ini jadi, akan mengubah struktur pendidikan dan model pengembangan masyarakat daerah. Contohnya, kalau Prof. Kadri mau datang ke Bima, Prof. Muhammad mau datang ke Bima, atau saya mau datang ke Bima, akan menaikkan “human capital index” (Indeks modal manusia terhadap pembangunan).
“Kita sekarang dalam krisis identitas, dalam krisis kultural, maka melalui sumber daya ini akan dimanfaatkan untuk meningkatkan sumber daya manusia di daerah ini. Ini adalah sumbangan yang luar biasa untuk pembangunan daerah,” kunci Prof. Muslimin. (Bersambung).













