Catatan M.Dahlan Abubakar
NusantaraInsight, Makassar — Lahir 2 April 1971 di Bima, Prof.Dr. Muslimin H.Kara,M.Ag. Menyelesaikan pendidikan pada Pondok Pesantren Darussalam Gontor tahun 1994, kemudian menuntaskan pendidikan S-1 tahun 1996 di IAIN Alauddin Ujungpandang dan S-2 di UIN Jakarta pada tahun 2003.
Drs.H.Mahmud Siddik, yang duduk di kursi terdepan pada acara reuni ini, merupakan guru Prof, Muslimin di Tsanawiyah Padolo Bima. Ternyata beliaulah yang memperkenalkan IAIN Alauddin karena alumnus IAIN.
Ada beberapa teman, Ibu Nurmi, Kak Ifa (Hamidatul Alifah) dll. Hadir pada acara reuni tersebut. Mereka senior Prof.Muslimin yang mengawali pendidikannya di Tsanawiyah Bima. Di kelas 3, Muslimin termasuk yang menonjol dan kemampuan itu meloloskan dia melanjutkan pendidikan
Setelah ujian masuk ke SMPN 2. Muslimin meraih Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) karena itu tidak ada yang bisa masuk SMA atau sekolah umum kalau tidak ikut EBTA.
“Saya bersama mengikuti dengan adik Pak Bupati, Syamsu Rijal, pegawai BNI. Ada empat orang. Apa yang terjadi, NEM saya itu bebas masuk pada seluruh SMA di Bima. Yang favorit pada waktu itu SMAN 1 Bima. Karena gengsinya luar biasa,” kenang Prof.Muslimin.
Dia pun mendaftar di SMAN 1 dari Tsanawiyah satu-satunya dengan Chalid. Muslimin masuk dengan pendafraran nomor 5. Akhirnya masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dengan harapan kelak langsung jadi guru.
Kebetulan pamannya, akhirnya menarik Muslimin dengan “samikna wa takna” (kami mendengar dan kami patuhi). Apa yang terjadi dengan dinamika seperti itu.
Muslimin lalu dimasukkan ke Asrama di SPG. Diberikan ‘honda’ (sepeda motor) untuk pergi bersekolah. Padahal bisa sampai satu bulan dia tidak sekolah.
Naik kelas 2 tidak bisa lagi ditahan. Dibina di SMA Muhammadiyah dilantik supaya menjadi mental kuat.
Muslimin akhirnya ke Pondok Pesantren Darusaalam Gontor dan belajar di sana tiga tahun.
Muslimin masuk IAIN Alauddin pada tahun 1992 dan dari para guru besar yang hadir dan duduk di sini, termasuk generasi paling muda.
“Prof.Kadri M.Saleh tahun 1991. Sama Pak Gani 1990,” kata Muslimin yang terlambat karena menghabiskan waktu 5 tahun di SMA.
Muslimin anak ke-8 dari 10 bersaudara. Salah seorang kakaknya, Darafiah, juga hadir pada acara reuni. Dari sepuluh bersaudara, lima laki, lima perempuan.
Ayahnya bekerja sebagai pedagang. Kalau siang pompa minyak, kadang-kadang Muslimin tak kenal panas matahari.
“Kalau dulu, di terminal Dara (sekarang), saat di Tsanawiyah, Muslimin menjalani profesi sebagai penjual minyak. Dan ini adalah jalan terpaksa,” ujarnya.













