Akhirnya diputuskan Hamzah ke Ujungpandang dengan sebagian pakaian diboyong temannya yang ke Yogyakarta. Sampai sekarang, temannya itu tidak mau bertemu. Namanya Firdaus. Lantaran tidak jadi ke Yogyakarta, komunikasi keduanya putus sama sekali.
Ketika itu belum ada kapal. Kapal perintis ada gtetapi jadwalnya tidak jelas dan teratur. Kalau dari Makassar kadang-kadang juga ada. Tetapi sebaliknya, dari Bima, jarang diketahui.
Apalagi kapal penumpang Pelni. Para mahasiswa Bima nanti “merdeka” dalam urusan transportasi laut setelah KM Kelimutu yang diresmikan di Pelabuhan Tenau Kupang NTT tahun 1986 diresmikan.
“Hampir sama dengan masanya Kak Dahlan. Naik perahu “Sinar Efrata” yang sudah bermesinm” sambung Prof. Hamzah Hasan.
Perahu Motor :sinar Efrata” yang hanya mampu memuat penumpang sangat terbatas, menempuh jarak Bima-Ujungpandang sejauh 225mil (410 km; 1 mil: 1.825m) ditempuh selama dua hari, 28 jam. Kalau KM Kelimutu dengan kecepatan 15 knots per jam, menempuh jarak Makassar-Bima dan sebaliknya dalam waktu 15 jam. Kini KM Tilongkabila menempuh jarak itu selama 18 jam dengan kecepatan 12 knots per jam.
Kapal motor berukuran kecil ini tidak berlabuh di Pelabuhan Soekarno Hatta. Kalau kakak-kakak yang dulu yang menumpang perahu, berlabuh di Pelabuhan Paotere, Ujung Tanah.
Hamzah setiba di Makassar, mendaftar ke Fakultas Syariah, satu fakultas dengan Syarifuddin. Ada juga seorang temannya asal Flores, satu angkatan dengan dia pada tahun 1983. Selesai sarjana muda, para mahasiswa waktu itu mendapat gelar “Bachelor of Arts” (B.A.). Bermodalkan gelar ini mereka sudah bisa melamar pekerjaan. Yang pasti bisa menjadi guru. Tetapi Hamzah langsung melanjutkan pendidikan ke program sarjana lengkap yang kini dikenal dengan Strata satu (S-1), sarjana.
Hamzah tidak pernah memiliki mata kuliah yang tertinggal. Soalnya, dia harus mempertahankan prestasi karena memperoleh beasiswa Supersemar. Itu yang bisa membantu. Ada juga yang dapat Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) dan sampai sekarang ada yang belum lunas kredit itu. Ijazah penerima disimpan sebagai jaminan. Sudah diputihkan oleh pihak Bank, tetapi setahun lalu, Hamzah pergi mengambil ijazahnya karena ditahan di bank. Selesai sarjana tahun 1989. Kemudian dipanggil mengajar di UMI. Tahun 1990 ikut tes dosen dan lulus.
Dia lulus dan ditempatkan di IAIN Alauddin Makassar. Luar biasa. Pernah SK-nya tertunda karena sama nama dengan peserta yang lain. Hamzah juga namanya sudah ada di BKKBN Sulsel. SK Hamzah datang setahun kemudian dan ditempatkan di Makassar.












