NusantaraInsight, Makassar — Jika Hakim Tinggi Drs.H.Syarifuddin, M.H. saat berkuliah di IAIN Alauddin menghindari berpacaran, yang ini justru terbalik. Kalau Syarifuddin pantang melakukan pacaran, Hamzah Hasan justru mengakui memiliki banyak pacar. Jumlahnya banyak. Hingga kembali ke Bima untuk mencari pasangan hidupnya.
Hamzah Hasan anak sulung dari sembilan bersaudara. Satu meninggal.
“Kepala Kantor Kemenag Kota Bima, H.Mansyur A.Ag., adalah adik saya,” Hamzah Hasan bertutur saat mendapat giliran testimoni pada acara Reuni Lintas Generasi Alumni IAIN (UIN) Alauddin Makassar, 22 Maret 2026 di Kantor Kemenag Kota Bima.
Bisa dibayangkan, orang tuanya yang tidak tamat SDN, kadang-kadang menjadi kusir benhur (sejenis bendi, angkutan antardesa yang dihela seekor kuda). Hamzah Hasan pernah bersekolah di madrasah, PGA dulu sebelum pisah. Kalau libur saat kembali ke Sekuru, desa Kelahirannya di Kecamatan Monta Kabupaten Bima, dia membawa benhur, menggantikan ayahnya. Pulang ke Sekuru membawa benhur memberi kenangan luar biasa bagi Hamzah Hasan.
“Ini ada bekas di bibir, hasil dari tendangan kuda benhur,” selanya sembari menunjuk bagian mulutnya yang sedikit berubah dari bentuknya yang normal.
Hamzah bercerita, biang kejadian ini gegara ada seorang teman mengajak ke Tente, sekitar 3 km dari Sekuru. Hamzah yang belum sempat mencuci muka langsung menuju kandang, tempat kuda penghela benhur diikat di salah satu bagian halaman rumahnya.
“Saya bangun, tidak cucu muka, langsung mengambil kuda di kandang. Satu tendangan, membuat satu gigi saya rontok,” kenang Hamzah Hasan disambut ratusan alumnus dengan tertawa massal.
Katanya lagi, jadi begini, karena waktu itu Mantri Kesehatan belum profesional bentuknya (bagian bibirnya) tidak normal. Kalau Mantri Kesehatan-nya profesional, tidak seperti ini. Hamzah Hasan memperlihatkan bibirnya yang sedikit salah model. Namun bagus juga agar menjadi catatan hidup.
Rencana sekolah Hamzah bermula dari seorang teman baik. Waktu itu, Hamzah Hasan kebetulan sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Dia mengajak Hamzah ke Yogyakarta karena ada Kepala Kantor Depag waktu itu baik sekali dan tidak pernah pisah dengan Hamzah dan teman-teman. Sehingga, sebagian pakaian Hamzah ada pada temannya itu. Dia ingin sekali Hamzah bersama dengan dia ke Yogyakarta.
“Nak, kalau kamu ke Yogyakarta, siapa yang bisa lihat. Tidak ada keluarga dari Sekuru di Yogyakarta. Kalau di Ujungpandang, banyak. Di Ujungpandang banyak orang,” Hasan, ayah Hamzah menyampaikan kepada anak sulungnya ini.












