SDN Kanca masih seperti dulu. Yang berubah sejak saya tinggalkan adalah bangunannya yang sudah setengah batu. Pada saat program MBG diluncurkan, sekolah saya ini juga dapat kebagian. Tetapi realisasinya baru dilaksanakan tahun 2026. Sebab ketika saya pulang kampung tahun November 2025, program ini masih dalam proses penyiapan,
Saat mudik Lebaran 2026, saya memperoleh informasi dari para orang tua, para murid sudah mulai menikmati MBG. Hanya saja, kehadiran menu gratis ini mengubah perilaku para murid. Mereka nanti datang bersekolah jika pada hari pembagian MBG yang berlangsung dua kali seminggu, Senin dan Kamis.
“Kalau tidak ada MBG, mereka tidak pergi sekolah,” seorang ibu bercerita kepada saya saat ikut bergotong royong membangun pagar Masjid At Taqwa Desa Kanca, 28 Maret 2026 pagi.
Repotnya lagi, para murid yang bersekolah pada hari Senin dan Kamis itu, kadang-kadang tidak tenang belajar ketika melihat mobil SPPG muncul di halaman sekolah. Saat melihat mobil yang membawa MBG itu masuk, mereka sulit konsetrasi belajar lagi. Bahkan, ingin segera lari menjemput MBG. Astaga.
Itu cerita di SDN Kanca. Lain pula urusan MBG di salah salah satu sekolah menengah tingkat atas di Kecamatan Parado. Di sekolah ini, panitia pelaksana MBG adalah para karyawan sekolah. Mereka-lah yang menjadi pengatur jatah MBG.
Persoalan MBG di sini adalah saat jatah MBG tidak sesuai dengan jumlah siswa yang hadir. Jatah MBG jumlahnya sesuai daftar siswa yang ada, namun kerap siswa yang hadir bersekolah kadang hanya separuh. Pertanyaan kita, jatah MBG yang tak bertuan ke mana?
Ternyata, jatah MBG yang bersisa ini menimbulkan pemandangan baru. Banyak anggota panitia atau guru membawa pulang “oleh-oleh” MBG ke rumahnya, meskipun terhadap setiap guru yang lain hanya memperoleh satu jatah. Terutama yang tidak dekat dengan panitia. Ya, begitulah MBG selalu saja menimbulkan hal yang lucu-lucu. (*).













