Soal judul, “Ibu, Gaib!”, meskipun di dalam buku sendiri tertulis “Ibu Gaib”, tetapi penggunakan tanda (!) pada judul menimbulkan penasaran. Di spanduk menggunakan “kalimat seru”, sementara pada isi buku memakai kalimat berita, menginformasikan. Jika dianalisis berdasarkan sintaksis (tata kalimat), jelas judul yang di spanduk memancing penasaran pembaca, termasuk saya. Kalimat pendek dua kata itu menginformasikan bahwa ibu sedang mengalami proses kegaiban.
Jika saya membaca isi cerpen, judul yang di spanduk tampaknya lebih berterima. Di sini ada unsur ketakjuban anak terhadap peristiwa ‘transendental’ yang dialami sang Ibu. Melibatkan sesuatu yang di luar nalarnya. Yakni, bagaimana seorang ibu tiba-tiba menghilang di belakangnya saat salat berjamaah.
Kalau “Ibu Gaib”, konteks pemaknaannya datar-datar saja jika dibandingkan judul yang di spanduk.
Pada judul kedua ini hanya menginformasikan, tidak memberi rasa penasaran yang mendalam kepada pembaca saat melihat judulnya. Terutama dapat menggugah perasaan mereka yang sensitif memaknai suatu frasa yang digunakan di dalam tulisan.
Kedua, peringatan Hari Ibu, juga menjadi bagian dari warna diskusi buku ini. Peringatan Hari Ibu yang dilaksanakan selama ini lebih kepada hal-hal yang seremonial rutin belaka.
Memang sejatinya, memakna dan menyikap suatu peringatan, suatu kelompok atau komunitas tertentu seharusnya memperingati hari tersebut dengan aktivitas kreatifnya masing-masing. Misalnya, Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) memperingati Hari Ibu dengan peluncuran dan diskusi buku bertemakan dan menyoal tentang eksistensi dan jasa seorang ibu. Sehingga, peringatan Hari Ibu “semarak” dengan model aktivitas yang sangat variatif.
Ketiga, kisah tentang ibu adalah bagaikan mata air yang terus mengalir. Siapa pun dia, terutama orang Indonesia di perdesaan, memiliki masa bersama ibu dalam rentang waktu yang lama. Saya misalnya, mungkin tidak sama dengan anak-anak kota yang lebih lama membersamai ibunya. Anak-anak desa membersamai ibu mereka selama menjalani pendidikan dasar di desanya.
Pada saat menamatkan pendidikan SD, dia akan pindah ke tempat lain yang ada SMP. Begitu pun dengan saat di SMA dan perguruan tinggi. Kondisi seperti ini membuat seorang anak memiliki banyak waktu tidak bersama dengan ibunya. Di sisi lain, setiap hadir di depan ibunya pastilah melahirkan kisah tersendiri.
Itulah yang membuat seorang anak desa memiliki kisah bersama dan tentang ibunya. Kisah “Ibu Gaib” M.Amir Jaya justru terjadi pada saat sang anak sedang bersama-sama dengan sang Ibu. Kisahnya menjadi sangat mengasyikkan.












