Dia termasuk pemain asal Bandung yang bertalenta seperti Adjat Sudradjat, Ada Hudaya, Robby Darwis, dan lainnya.
Setelah mundur sebagai pemain bola, dia melanjutkan kariernya sebagai karyawan PT PLN Jawa Barat dan mendirikan BAFC.
Selain itu, Kang Boyke juga dipercaya sebagai Asisten Pelatih Tim Nasional U-14 tahun 1989 (Pelatih Maman Suryaman) dan U-16, Timnaas U-23 Tahun 2005 (Coach Wartakusuma) dan tahun 2006 dengan pelatih Bambang Nurdiansyah dan asisten pelatih Widodo Cahyo Putra, Kang Boyke sebagai pelatih kiper.
Pernah juga pernah mendampingi Niel Meizar dan Miloslav Janu pada Tim All Stars Liga dan Tim Persib pada tahun 1998. Lalu menjadi Asisten Pelatih Tim Galatama PKT Bontang 1999 bersama duet pelatih asing Sergei Dubrovin dan Juan Paez. Ketika itu PKT melaju ke grandfinal, bertemu PSM yang kemudian tampil ssebagai Juara Lga Tahun 1999-2000.
Salah satu keinginan Kang Boyke, melatih Persatuan Sepak Bola Garut (Persigar) Senior, kota dia dibesarkan. Dia juga pernah melatih PSB Bogor Divisi 1, Persib Liga yang dilatih Coach Juan Paez dan Indra Tahir. Pada saat Tim PON Jawa Barat 1994 menjadi asisten pelatih dengan Nandar Iskandar sebagai pelatih.
Saat ditanya konsep dan modal pembinaan sepak bola, pensiunan karyawan PT.PLN ini menyebutkan, sepak bola memerlukan perencanaan, strategi, dan racikan dari pelatih. Pembinaan tidak dapat berjalan tanpa kompetisi yang teratur. Kepada para pemain hendaknya diberi motivasi agar mereka mengeluarkan kemampuan terbaik dan bermain dengan hati.
“Kita harus gebyarkan kembali kompetisi antarklub. Jawa Barat merupakan gudang pemain bagus. Hanya mereka tidak diberi kesempatan. Korsa pemain amatir itu bagus,” kata Kang Boyke.
Dalam pertemuan tersebut, Kang Boyke masih ingat beberapa pemain PSM, seperti Anwar Ramang, Syamsuddin Umar, Ronny Pattinasarany, Jhony Kamban, Johannes Deong (kiper PSM), Kusnadi Kamaluddin, dan beberapa nama lain yang se-angkatan dengan beliau. Kebetulan nama-nama itu saya kenal baik.
Itulah Kang Boyke Adam yang ternyata termasuk ‘keluarga’, dari sisi sepupu sekali saya, Hamdan Zoelva. Saya baru menyimak dari perjalanan hidupnya beberapa hari terakhir ini dalam lawatan terlama saya ke Jakarta hingga saat ini. (*).












