Berbincang dalam Temaram Anjungan KM Tilongkabila

“Akhirnya, orang Bima dan Makassar banyak yang menikah, ya,” potong Ifonk setelah mendengar cerita saya.

“Iya, ada beberapa di antara kami itu memilih menikah dengan orang Bugis-Makassar. Habis, kalau pulang juga sudah tidak punya calon. Sudah diambil orang atau menikah lebih dulu,” ungkap saya membuat Ifonk terkekeh.

“Ya, zaman itu, kan belum ada alat komunikasi. Daripada menunggu lama-lama tidak ada kepastian, kalau ada yang lamar, orang tuanya bilang, ambil saja, ” Ifonk menimpali.

Saya juga menjelaskan pengalaman seorang teman mahasiswa adal Bima. Suatu saat dia menerima surat dari pacarnya di kampung yang mengabarkan kalau dia akan segera dilamar dan menikah. Perempuan itu pun mengirim surat ke Ujungpandang, ke teman yang waktu berkuliah di IAIN (UIN) Alauddin. Dia membaca surat tersebut pada Sabtu (malam) Minggu. Di dalam suratnya, tertulis bahwa pada hari yang bersamaan dengan pacarnya yang di Ujungpandang membaca surat itu, rupanya di kampung, eks pacarnya sedang di pelaminan, bersanding dengan pria pilihan orang tuanya.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (7-Habis): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Mendengar isi surat tersebut memicu inspirasi saya untuk membuat sebuah cerita pendek. Cerpen berjudul “Malam Minggu” dimuat di rubrik “Cerita Pendek” harian “Pedoman Rakyat” edisi 6 Maret 1976.

“Jadi sempat menulis buku awal kisahnya itu?,” tanya Ifonk.

“Iya, ada buku saya “Lorong Waktu” yang saya serahkan ke Capt.Subair, tetapi tidak mencantum kisah teman itu,” jawab saya.

“Zaman sekarang kan mereka tidak tahu, seperti apa perjuangan orang-orang dulu mencari ilmu,” katanya lagi.

“Saya senang dengar cerita orang-orang lama, Pak Aji,” sambung Ifonk setelah mendengar pengalaman seorang teman Profesor yang ketika masih masih di Bima pernah menjadi kusir benhur. Saat pagi belum sempat cuci muka, seorang temannya minta diantar ke suatu tempat sekitar 3 km dari desanya. Saat pagi-pagi ketika mendekati kudanya, satu tendangan penghela benhur itu melenyapkan satu biji giginya. Bibirnya pun sobek. Lantaran Mantri Kesehatan kala itu belum profesional, jahitan pada bibirnya, menyisakan pemandangan yang berbeda dengan bentuk bibitnya yang normal.

Ifonk juga menceritakan kakeknya yang dulu pernah naik perahu layar ke Tanjung Pinang dan Jakarta, tanpa kompas sama sekali. Orang zaman dulu memanfaatkan rasi bintang di langit sebagai petunjuk arah. Ada rasi bintang tertentu yang selalu mereka jadikan sebagai pedoman pelayaran.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (6): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Yang menarik dari bincang-bincang dengan Ifonk adalah dia pernah berkenalan dengan salah seorang gadis asal Dompu yang belajar di Makassar. Dia bahkan sudah berkomunikasi dengan orang tua si perempuan tersebut dan disetujui. Namun saat diinformasikan kepada orang tuanya di Jeneponto, ternyata mengandaskan keinginan Ifonk mempersunting gadis Dompu tersebut.