Argentina Mampu Mem-Prank Lawan

Legendaris tim dan mantan pelatih Inggris John Terry menyalahkan Thomas Tuchel, pelatih Three Lions, menginstruksikan Harry Kane dan kawan-kawan bermain bertahan. Akibatnya, gawang Pickford menjadi bulan-bulanan gempuran Argentina, meskipun hanya melahirkan dua gol. Tetapi, tercatat dua kali, bola menghantam tiang gawang Pickford, belum termasuk yang berhasil dia selamatkan sendiri.

 

br

Mem-’prank’

 

Keunggulan kedua yang digunakan Argentina sehingga mampu memetik kemenangan terhadap lawan-lawannya adalah melakukan “prank” terhadap lawannya. Maksud saya, Argentina memanfaatkan Lionel Messi untuk bergerak leluasa membawa bola hingga ke kotak 16. Kita sering menyaksikan, jika Messi memperoleh bola di sisi kotak terlarang, dia kerap meliuk-liukkan badannya sembari menggiring bola melintasi beberapa pemain lawan hingga ke kotak terlarang.

Trik terselubung yang dapat kita pahami dari ulah Messi ini adalah berharap saat menggiring bola, para pemain lawan akan melakukan pelanggaran. Wasit secara “tidak tertulis” selalu berusaha melindungi pemain bintang dari pelanggaran, seminimal apa pun tingkatannya. Dan, Messi memanfaatkan itu.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (1): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Salah satu keberhasilan triknya adalah ketika melawan Tanjung Verde kalau tidak salah. Messi mengeksekusi tendangan penalti ke jala Tanjung Verde yang dikawal Vozinha karena terjadinya pelanggaran di kotak terlarang. Sayang, tendangan kaki kiri Messi agaknya terbaca oleh Vozinha, kiper berusia kepala empat itu.

Begitulah fenomena penampilan Argentina selama Piala Dunia 2026 dalam menaklukkan lawan-lawannya. Kebobolan lebih dulu agaknya membuat motivasi para pemain asuhan L.Scaloni ini semakin mendidih untuk merebut kemenangan. Dan, realitasnya itulah yang terjadi.

Namun kita tidak tahu apakah Argentina akan mampu mencuri masa “injury time” dan mem-”prank” lawannya ketika berhadapan dengan tim Matador, Spanyol. Sebab pasti, Luis de La Fuente, pelatih Spanyol, sudah mempelajari pola permainan Argentina, seperti juga dia menganalisis gaya permainan Prancis hingga membuat Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele, betul-betul mati kutu saat diadang ke final dengan kekalahan telak 0-2. (*).

brbr
brbr
br