AAA Arina Saraswati, Perempuan Ayu yang Mau Urus Sampah

Anak Agung Ayu (AAA) Arina Saraswati Hardy, A.Par., M.M
Anak Agung Ayu (AAA) Arina Saraswati Hardy, A.Par., M.M

Dia menginginkan bahwa petani, seperti juga di luar negeri, bisa kaya. Maksudnya, secara finansial mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga tak perlu ke luar negeri bekerja di kapal pesiar dan sebagainya.
Arina melaksanakan bisnis kecil-kecilan paket mengelola sampah mandiri. Yang lainnya bisa mengelola mesin pengelola sampah, Arina malah memilih mengedukasi masyarakat agar bisa mengelola sampahnya sendiri.

Pada saat menjual paket kelola sampah mandiri itu, diikuti dengan pelatihan kepada komunitas, atau boleh juga banjar, juga di pura-pura. Organisasi Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) sempat juga dia melaksanakan kegiatan di Pura Sakenan, menyumbangkan kantong kompos (compos bag), biobakteri dan tanah subur untuk pengelolaan sampah di sana.

“Masyarakat menyambut dengan suka cita dengan menggunakan tempat sampah yang di bawah (biopori) ternyata kurang efektif, karena tidak ada biobakteri. Mereka sangat senang dengan apa yang saya bawa saat itu. Akhirnya berlanjut dengan selalu memantau. Memberikan pelatihan kepada komunitas, terutama untuk rumah tangga karena di situlah sampah yang banyak,” ujar Arina.

BACA JUGA:  Selamat Jalan Pahlawan Dunia

Di rumah dalam waktu satu minggu ada 12 kresek sampah. Mereka dilatih dengan memperkenalkan tempat sampah harus disediakan. Di antaranya, ada warna hijau (organik), biru (yang bisa didaur ulang– resycle), merah (untuk B3), hitam (sampah yang tak bisa didaur ulang sama sekali). Yang diolah adalah sampah organik,” kata Wakil Sekretaris Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DPD Partai Golkar Bali 2025 – 2030 dan Wakil Sekretaris BPD PHRI Provinsi Bali 2025 -2030 tersebut.

Yang menjadi sampah itulah yang digunakan untuk “urban farming”, kebun perkotaan. Jadi, warga bisa membuat kebun sendiri. Bisa pakai “polibag”, kaleng-kaleng bekas yang kemudian digantung dan menggunakan kompos hasil sampah sendiri. Sampah dari dapur, daun-daunan misalnya.
Paket yang ada dalam pengelolaan Arina adalah “compos bag” (kantong kompos). Satu kantong itu ada bukaan di bawahnya untuk mengetahui apakah sudah menjadi kompos atau belum. Kapasitas kantong bisa 50 liter, 80 liter, dan 200 liter. Namun yang dijual kapasitas 200 liter karena dalam satu minggu saja ada 12 kresek sampah, sehingga diperlukan yang ‘gede’ (besar). Ada juga biobakteri untuk mengurai, kemudian tanah subur (katalisator) untuk membantu mengurai biobakteri tersebut.

BACA JUGA:  Bunuhlah Yahudi Dulu

Setelah melaksanakan pelatihan, sekali seminggu, Arina mengeceknya. Jadi tidak ditinggalkan begitu saja. Sebab, kalau tidak ada yang memulai, siapa lagi yang memulai.