Perumnas yang dimaksud di sini, yakni Perumnas Panakkukang II, meliputi Toddopuli, Tamalate, dan Tidung. Meski tertulis trayek Perumnas-Kampus UNHAS, tapi pete-pete rute ini juga mengangkut penumpang di kawasan-kawasan sekitarnya.
Karena sering ngobrol dengan sopir, termasuk dengan Pak Haji, saya jadi paham, mengapa mereka tertarik masuk kampus.
Penumpang kampus itu jelas segmennya. Mereka rapi, tidak seperti kebanyakan penumpang umum. Sekali tarik, apalagi bila dari kampus, pasti penuh, sehingga penghasilannya lebih dapat diukur dan terjamin.
Nah ini, ada semacam kebanggaan atau gengsi bisa kenal dan bergaul dengan mahasiswa. Makanya, jangan heran bila antara sopir pete-pete kampus UNHAS dengan mahasiswa, rerata saling kenal.
Hampir semua sopir trayek yang biasa ditumpangi, dihafal namanya.
Hanya saja, harus diakui, jumlah pete-pete kampus saat itu relatif terbatas. Kadang, mahasiswa menunggunya cukup lama baru ada pete-pete yang muncul. Kalaupun muncul, belum tentu masih ada kursi kosong. Bisa saja sudah penuh. Maklum, penumpangnya hanya cukup untuk 11-12 orang. Rinciannya, 1 orang di depan, 6 penumpang di sisi kanan, dan 4 di sisi kiri. Tambahan 1 orang, duduk di dekat pintu, pada bangku yang sengaja disediakan sopir.
Terbatasnya kapasitas angkot, membuat sopir selektif mengambil penumpang di jalan. Mereka selalu mengutamakan penumpang mahasiswa, terutama mahasiswa UNHAS.
Dengan kondisi ini, begitu saya mendapat tawaran dari Pak Haji, saya langsung menyampaikan kepada teman-teman sejurusan. Mereka merespons tawaran tersebut dengan senang hati. Karena dengan begitu, sudah pasti mereka akan mendapat tumpangan ke kampus bila ada jadwal kuliah pagi, dan tak harus berebutan pete-pete di sore hari, bila mengikuti jadwal kuliah terakhir di kampus.
Apalagi ada jaminan dari Pak Haji bahwa beliau akan mengantar dan menjemput sampai ke depan rumah, sepanjang ada jalan yang bisa dilewati.
“Iya Pak Haji, bagus itu. Jadi saya tidak harus menunggu di depan jalan lagi berlama-lama. Luntur cantik ta menunggu pete-pete,” kata seorang teman perempuan dengan gaya bercanda.
“Bedak ta berganti mi debu saking lamanya menunggu,” teman perempuan lain menimpali.
“Saya bahkan pernah pulang kembali ke rumah karena tidak dapat pete-pete, sementara saya perkirakan kuliahku habis begitu tiba di kampus,” cerita teman yang lain.
Belum lagi, kalau musim hujan, tidak ada tempat berteduh karena tidak adanya halte. Masih ada lagi, keluhan teman-teman sebagai penumpang pete-pete terhadap perilaku sopir yang lamban.
Bagaimana tidak? Sopir pete-pete kadang menunggu calon penumpang di ujung lorong, gang atau setapak. Dia akan menunggu sampai calon penumpang mendekat. Padahal, belum tentu kalau si orang yang keluar dari lorong, gang atau setapak itu akan naik mobilnya.
Berlangganan pete-pete ini sangat dimungkinkan karena sebagai mahasiswa Fakultas Hukum semester-semester awal, jadwal kuliah kami praktis sama. Kami, sebelum itu, sudah punya teman yang biasa naik angkot bareng. Walau ini jalur Perumnas-Kampus UNHAS, bukan hanya yang tinggal di kawasan Toddopuli, Tamalate, Tidung, yang jadi pelanggan pete-pete Pak Haji. Ada juga teman yang tinggal di Kompleks Pemda Jl Letjend Hertasning, di Jl Rappocini, di Kompleks Perumahan Rumah RSI Faisal, di Jl Bonto Langkasa, bahkan di Jl Mannuruki.
Dari Perumnas, kami biasa potong kompas biar lebih dekat, dengan melewati jalan yang sekarang diberi nama Jl Toddopuli Raya Timur. Parahnya, kalau habis hujan, jalan ini becek dan bergelombang. Maklum, di masa itu belum diaspal dan masih berupa pengerasan. Dari jalan yang masih berupa tanah liat ini, kami akan berbelok ke Jl Batua Raya, lalu ke Jl Abdullah Dg Sirua, terus ke lampu merah PLTD Tello, kemudian belok ke arah Jembatan Tello. Kalau dari sini, pete-pete akan menyusuri Jl Perintis Kemerdekaan, masuk ke kampus UNHAS lewat pintu 1. Nanti, kalau keluar dari kampus, rutenya akan melewati pintu 2, yang sekarang terdapat RSUP dr Wahidin Sudirohusodo.












