Catatan Akhir Tahun Opini Publik: Tujuh Sentimen Positif, Satu Sentimen Negatif Pemerintahan Prabowo

• Sentimen:
• Positif: 71,6%
• Negatif: 28,4%

Analisis:
Dukungan kuat muncul dari masyarakat, khususnya terkait kesejahteraan guru. Tantangan utamanya adalah memastikan distribusi anggaran yang adil.

4. Pertumbuhan Ekonomi

• Program: Target pertumbuhan ekonomi 8% melalui tujuh sektor utama, termasuk transisi energi hijau.

• Frekuensi Percakapan: 8.002

• Sentimen:
• Positif: 58,0%
• Negatif: 42,0%

Analisis:
Transisi energi hijau menjadi sorotan positif. Namun, sebagian masyarakat skeptis terhadap realisasi target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

5. Stunting

• Program: Penurunan prevalensi stunting dengan program makan bergizi gratis berbasis pangan lokal.

• Frekuensi Percakapan: 2.264

• Sentimen:
• Positif: 52,7%
• Negatif: 47,3%

Analisis:
Publik menyambut baik fokus pemerintah pada masalah stunting. Tantangan utamanya adalah distribusi program yang merata hingga daerah terpencil.

6. Perumahan

• Program: Penyediaan 3 juta rumah, termasuk 2 juta rumah di desa melalui UMKM lokal.

• Frekuensi Percakapan: 4.190

• Sentimen:
• Positif: 53,7%
• Negatif: 46,3%

Analisis:
Program ini dianggap sebagai langkah maju untuk mengatasi perumahan bagi masyarakat miskin. Kritik muncul terkait pendanaan dan waktu realisasi.

BACA JUGA:  “Aktivis” Maccini Baru dan Meneer dari Unhas

7. Tenaga Kerja

• Program: Kenaikan upah minimum nasional (UMN) sebesar 6,5% pada 2025.

• Frekuensi Percakapan: 5.248

• Sentimen:
• Positif: 52,6%
• Negatif: 47,4%

Analisis:
Pekerja menyambut kenaikan UMN ini dengan baik, sementara pengusaha khawatir dampaknya pada daya saing.

8. Politik

• Program: Wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD untuk efisiensi biaya.

• Frekuensi Percakapan: 1.629

• Sentimen:
• Positif: 23,7%
• Negatif: 76,3%

Analisis:
Program ini mendapat kritik tajam dari publik yang khawatir akan melemahkan demokrasi dan meningkatkan risiko korupsi.

-000-

Riset LSI Denny JA menunjukkan bahwa program kerja Prabowo Subianto mayoritas mendapat tanggapan positif dari masyarakat.

Tujuh dari delapan program mendapat sentimen positif yang lebih besar, terutama program pendidikan dan pertanian.

Namun, wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD menuai kritik besar, menjadi program dengan sentimen negatif sangat tinggi.

-000-

Kesimpulan dan analisis

1. Prioritaskan Implementasi: Fokus pada pelaksanaan program yang telah mendapat dukungan positif, seperti pendidikan dan pertanian, untuk menjaga momentum kepercayaan publik.

BACA JUGA:  In Memoriam H.Hasan Kuba: Wartawan film dan Budaya itu Pergi 'Tuk Selamanya

2. Peningkatan Transparansi: Pastikan semua program memiliki mekanisme pengawasan yang kuat untuk menghindari penyimpangan.

3. Fokus pada Inklusi Daerah: Pastikan program seperti stunting dan kesehatan ibu hamil menjangkau masyarakat di daerah terpencil.

4. Prabowo sebaiknya menghindari isu Pilkada dipilih DPRD. Politik Indonesia yang presidensial tak bisa disamakan dengan India, Singapura, atau Malaysia yang parlementer.

Dalam sistem presidensial, kepala eksekutif (Presiden) dipilih langsung oleh rakyat. Sementara dalam sistem parlementer, kepala eksekutifnya (Perdana Menteri) dipilih parlemen, dan ia juga anggota parlemen.

Di tahun 2014, upaya Pilkada dipilih DPRD pernah dicoba, tapi akhirnya dibatalkan Presiden SBY. Survei opini publik saat itu menunjukkan lebih dari 80 persen rakyat menolak haknya memilih langsung pemimpin dicabut.

Rakyat banyak akan mudah sekali membalikkan dukungannya karena merasa haknya untuk memilih pemimpin diambil alih.

Jika ratusan kepala daerah dipilih DPRD, siapa yang akan menjadi gubernur, wali kota, dan bupati sepenuhnya hanya masalah “kesepakatan” 3-5 ketua umum partai politik di Jakarta saja. Pemilihan kepala daerah akan sangat elitis untuk sistem politik presidensial.