Sudah malam, saat ke sana. Itu pun tak langsung dapat pete-pete ke tempat tujuan. Saya hanya dapat pete-pete yang sampai di Pasar Patallassang kemudian harus nyambung dengan pete-pete lain untuk ke Kantor Camat Mappakasunggu, yang jadi tempat pelatihan.
Pasca pelatihan, dilanjutkan dengan kegiatan pendampingan. Lokasi kegiatannya, sedikit lebih jauh daripada tempat pelatihan dahulu. Tempatnya berupa bangunan tradisional berbentuk panggung yang cukup besar. Namanya Baruga Datu Sawitto.
Ketika saya kembali ke sana, pada bulan Juli 2024–untuk melakukan napak tilas–baruga itu sudah tidak ada, hanya tersisa lapangan luas yang dahulu ditempati baruga.
Baruga tersebut posisinya bersebelahan dengan SDN No 227 Inpres Takalar II. Di seberang jalannya, tak jauh dari baruga terdapat Puskesmas Mappakasunggu. Sementara di sebelah lapangan, berdiri Kodim 1426 Sudanga Korem 1426-06.
Baruga ini dibangun oleh Plan Indonesia PU Takalar, untuk kegiatan anak-anak dan warga setempat. Lokasinya berada di Dusun Cilallang, sekarang menjadi Lingkungan Cilallang.
Saya membayangkan dahulu bila melewati jalan ini. Jalan yang lebar dengan pohon-pohon asam yang tumbuh besar di sisi kiri dan kanannya. Bangun-bangunan dengan atap tinggi dan jendela-jendela lebar, sebagai penanda bahwa ini kota tua.
Sementara di depan Kantor Camat Mappakasunggu, terdapat beberapa pohon lontar dan pohon asam. Berdiri pula rumah atas (balla rate), di sampingnya. Sayang kondisi bangunan-bangunan ini terlihat kurang terawat baik. Barangkali sudah tidak difungsikan lagi.
Kota Takalar Lama di masa lampau merupakan pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan. Dahulu terdapat Rumah Sakit Umum Takalar, penjara lama, kantor pos dan Sekolah Rakyat (SR). Kabarnya, orang Gowa dan Jeneponto bersekolah di situ.
Kota tua ini memang merupakan kota bersejarah. Ada banyak jejak historis di sini, termasuk rel kereta api pertama yang menghubungkan Takalar dengan Pasar Butung, di Makassar. Menurut cerita warga, di belakang baruga, dekat lapangan, merupakan jalur rel kereta api.
Kegiatan pendampingan kami di Takalar Lama, rutin dilakukan, setiap hari Ahad. Anak-anak yang ikut kegiatan merupakan keluaran Pelatihan Dewan Anak. Mereka antara lain, Acculu (Nasrullah), Risal, Bia, Maro, Ramlah, dan Mile (Muhtar).
Anak-anak ini berasal dari berbagai dusun, yakni Dusun Kunjung Mae, Dusun Kampung Beru, Dusun Takalar, Dusun Cilallang, Dusun Pattitangngang, dan Dusun Masalleng. Anak yang paling jauh rumahnya berasal dari Dusun Kunjung Mae, yang sekarang menjadi Lingkungan Parialau.
Saya pernah bermalam di dusun ini. Untuk ke sana, kami mesti melewati Tempat Pelelangan Ikan (TPI), lalu jalan meniti di tambak-tambak penduduk, sebelum tiba di dusun yang berada di ujung ini. Saya diajak nginap bersama beberapa anak dampingan, bakar ikan, dan nyanyi-nyanyi dengan gitar di malam hari.
Anak-anak memang sempat protes karena pertemuan selalu diadakan di Dusun Cilallang, tempat baruga berada. Agar adil, maka kami bersepakat untuk sesekali mengadakan pertemuan di dusun-dusun lainnya, sesuai kesediaan kader Plan Indonesia PU Takalar yang mau ditempati rumahnya.
Kader Plan ini merupakan contact person kami dengan anak-anak. Kader Plan, saat itu, terdiri dari Nidia, Hasnah, Mabe, Murni, Sunggu (alm), dan Fatma.
Ada kejadian di mana seorang anak, yang akan diutus mengikuti kegiatan di Jakarta, batal berangkat hanya gegara dia muntah-muntah saat berada di pete-pete. Rupanya, anak itu baru pertama kali naik pete-pete.
Belum lama berada di atas pete-pete, kepalanya pusing. Dia tak tahan saat angkot yang ditumpangi dalam perjalanan menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Akibatnya dia muntah-muntah. Anak itu akkhirnya kembali pulang, dan batal ke Jakarta.












