Buku Biografi Ajoeba Wartabone dan Pentingnya Arsip Sejarah

Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas, Arnold Mononutu, selaku Ketua delegasi, menyampaikan pidato radio melalui corong RRI Makassar, pada Kamis, 11 Maret 1948. Surat kabar Pelita di Tomohon, terbitan Senin, 22 Maret 1948, mengutip utuh pidato tersebut.

Muhibah itu memberikan impresi yang kuat tentang daerah-daerah yang didatangi, seperti Yogyakarta, Solo, Madiun, Klaten, Malang, Bogor, dan Jakarta–semacam studi tiru, tetapi dalam bobot ikatan nasionalisme yang kental.

Tergambarkan dalam bunyi pidato Arnold Mononutu, yang mengatakan: “Menurut faham saya, persatuan antara kita dan Republik, persatuan antara rakyat di Indonesia Timur dan Republik Indonesia pada umumnya dapat dieratkan dan diperkokohkan.”

*Pembelajaran Sejarah*

Buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, memberikan pembelajaran bahwa dengan dan melalui arsip sejarah, kita bisa melihat gagasan, visi, dan kepemimpin seseorang, yang menjadi legacy-nya.

Arsip-arsip itu bisa terjaga baik karena ada peran keluarga, negara, dan kaum cendekia (peneliti, arsiparis, penulis).

Arsip-arsip tersebut tak hanya berhenti sebagai tumpukan dokumen di ruang sunyi, tetapi dibunyikan, disuarakan, dan dinarasikan kembali untuk edukasi dan literasi.

BACA JUGA:  Rahman Rumaday, Sosok Inspirator Oleh :Anwar Nasyaruddin (Sekertaris IKAPI Sulsel, Cerpenis)

Buku dan arsip sejarah terkait Ajoeba Wartabone masih sangat mungkin dikemas lagi secara kreatif, dialih-wahanakan menjadi film dokumenter, komik, animasi, novel, dan atau konten serial dalam format digital.

Apalagi bila kisah hidupnya dihubungkan dengan keluarga besarnya yang memiliki ketokohan, tentu akan sangat menarik.

Sehingga, benar apa kata penulis Amerika ternama, William Cuthbert Faulkner (1897-1962), bahwa “Masa lalu tidak pernah mati. Bahkan, itu belum berlalu.”

Peraih Nobel Sastra (1949), National Book Award (1951; 1955), dan penghargaan Pulitzer untuk fiksi (1955; 1963), yang terkenal lewat karyanya The Sound and the Fury (1929) dan As I Lay Dying (1930) ini, hendak mengingatkan kita bahwa arsip membuat sejarah tetap hidup dan relevan dengan masa kini. (*)