Sehari-hari orang banyak memanggilnya sebagai Ka De (Kepala Daerah). Karena, waktu itu, ia memang merupakan Kepala Daerah Sulawesi Utara (1949-1950).
Kiprah, sepak terjang, dan kontribusi Ajoeba Wartabone melewati batas daerah, tak cuma di Gorontalo, dan Sulawesi Utara, tetapi Indonesia Timur, yang mencakup Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku.
Perannya sebagai anggota Parlemen NIT begitu signifikan. Ia tergabung dalam Fraksi Progresif, yang jelas garis perjuangannya. Ajoeba adalah definisi dari nasionalis-republikein tulen.
Bukti-bukti tentang apa yang jadi visi dan fokus Ajoeba Wartabone dihadirkan dalam buku ini.
Misalnya, Seruan Ajoeba Wartabone “pro Republik” di Parlemen NIT (Negara Indonesia Timur) di Makassar: “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja sekali merdeka tetap merdeka” yang bersumber dari arsip Republik Indonesia, Provinsi Sulawesi, Kementerian Penerangan, April 1953.
Sejumlah foto terkait NIT dari Nationaal Archief di Den Haag, Belanda, dan Arsip Nasional RI, juga menjadi bagian penting dari buku ini.
Beberapa foto yang ditampilkan memperlihatkan Ajoeba Wartabone bersama rombongan Goodwill Missie NIT diterima secara resmi oleh Presiden RI, Ir Soekarno, dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, di Istana Negara, di Yogyakarta (18 Februari 1948).
Dalam pertemuan penting itu, hadir menteri-menteri, anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), petinggi sipil, dan perwira-perwira tinggi Angkatan Perang, antara lain Jenderal Urip Sumoharjo, Komodor Suryadarma, Laksamana Muda Pardi, dan Mayor Jenderal Purbonegoro.
Foto-foto lain, berbicara tentang misi diplomasi Parlemen NIT di mana Ajoeba Wartabone dan rombongan bertemu dengan sejumlah tokoh nasional, seperti, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain.
Kunjungan Goodwill Missie di beberapa kota di Jawa ini mendapat publikasi luas media massa, kala itu. Harian pagi Nasional, edisi 19 Februari 1948, di halaman utamnya menuliskan optimismenya bahwa kolonialisme dan imperialisme akan berakhir.
“Bahwa yang satu asalnya nanti akan kembali bersatu lagi.”
Berita itu hendak menunjukkan bahwa politik adu domba dan pecah-belah lalu kuasai (devide et impera) dari penjajah Belanda, tidak akan berhasil.
Begitu kuatnya semangat persatuan sebagai perekat di antara tokoh-tokoh bangsa, yang terus berupaya mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh.
Rombongan Misi Parlemen NIT yang lebih dikenal sebagai “Misi Persaudaraan” itu, berangkat dari Makassar ke Jakarta, 16 Februari 1948. Rombongan terdiri dari Arnold Mononutu (Ketua Tim), dengan anggota Dr H Bergema, Pastor A Conterius, Andi Gappa, Andi Massarapi, Anak Agung Nyoman Pandji Tisne, Ajoeba Wartabone, dan Tjan Tjoen Tek (Sekretaris).












