Bayi Terlahir di Puncak ‘Ncanga’ itu, Kini Profesor!

Prof.Dr.Abdullah Abd. Thalib, S.Ag., M.Ag.
Prof.Dr.Abdullah Abd. Thalib, S.Ag., M.Ag. “

“Eaak..eaak…eeaaak!,” baru saja Hafsah yang berkeringat mendaki bukit “ncanga”, naik ke salaja suara ini terdengar.

Matahari baru saja naik belum terlalu tinggi. Masih berat condong ke timur. Bahkan hampir masih tersembunyi di balik “ncanga” yang sebelah kanan. Hafsah mendaki lereng di barisan “ncanga” yang sebelah kiri. Udara masih sejuk di puncak gunung. Sinar mentari mengirim udara sejuk di puncaknya hari itu.

Mendengar suara itu, ketiganya segera menghentikan pekerjaannya. Suhartati dan Asmah segera ke “salaja”. Abd. Halik yang setelah mendengar suara bayi langsung berlari ke desa menjemput “sando” (dukun beranak). Suhartati dan Asmah yang belum mengerti akan proses kelahiran seorang manusia, sebelumnya memang melihat ada darah dan kotoran membekas di sarung yang dikenakan ibunya. Tetapi mereka tidak mengerti tanda-tanda seseorang akan bersalin.

Mereka masih remaja, terlalu muda untuk memahami fenomena seperti ini. Meskipun berusia 14 tahun saat itu, Suhartati masih awam dan belum pernah melihat seorang perempuan melahirkan. Apalagi Asmah yang baru berusia 11 tahun. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti urusan perempuan dewasa yang melahirkan.

BACA JUGA:  Erick Thohir Berhasil Obati Kekecewaan Pengurus Olahraga

“’Kalembo ade ta inae’…(banyak sabar, Ibunda)” hanya itu yang mampu Suhartati dan Asmah ucapkan kepada ibunya saat tiba di salaja beberapa saat kemudian setelah ibunya melahirkan.

“Na mone ki Sei,” (laki-laki, Hafsah),” Suhartati memberi tahu ibunya mengenai jenis kelamin anaknya yang baru lahir itu laki-laki setelah tiba di salaja. Suhartati dan Asmah tidak berbuat apa-apa menghadapi pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang perempuan yang piawai yang bernama sando melahirkan.

“Telah lahir adikku, “gumam Abd. Halik setelah mendengar bunyi “eaaak..” dan terus berlari kecil menuju desa.
Membiarkan kakaknya, Suhartati dan adiknya Asmah yang membersamai Ibunda Hafsah sembari menunggu bantuan sando (dukun beranak) Wai Boi yang dipanggil Abd. Halik. Wai Boi, perempuan yang sudah dikenal sebagai dukun beranak di Desa Boro kala itu. Jarak yang ditempuh berkisar 2-3 km dari Ncanga, yang dia harus berlari. Dia paham Ibunya sedang dalam keadaan darurat.

Saat Abd. Halik dan Wai Boi tiba, sisa-sisa persalinan sudah kering. Hafsah pun sudah dimandikan oleh kedua anaknya. Wai Boi kemudian memotong tali pusar si kecil yang baru lahir dan menanam ari-arinya.

BACA JUGA:  Menjaga Marwah Adat, Menegakkan Suara Profetis: Catatan untuk Gereja Toraja

“Tali ari-ari saya katanya mengitari kepala. Mungkin itu tanda akan menjadi sosok yang mendalami agama,” bayi yang lahir 53 tahun itu secara berkelakar pada saya di kebunnya di Pattalassang Gowa, 27 Juli 2025 sore.

Di rembang petang, Abd. Thalib menginjakkan kakinya di lereng “ncanga”. Melewati batu besar, tempat istrinya bersandar beberapa jam sebelumnya. Saat mendaki lereng menuju “salaja” di puncak “ncanga” dia mendengar suara yang langka, tetapi rutin. Pertanda awal dari siklus kehidupan seorang anak manusia.

“Eaaak… eaaaak..eaaaak..,” suara itu melintas di telinga Thalib saat kakinya terus melangkah mendaki lereng “ncanga” sore itu.

“Telah lahir anakku,” batin Abd. Thalib berbisik sembari semakin mempercepat langkahnya dengan beban bagian daging dua ekor rusa yang mampu dipikulnya hari itu.

Dua ekor rusa yang diperolehnya itu, pertama kali terjadi dalam sejarah perburuannya yang berbilang tahun.

Rezeki ini merupakan berkah dari Allah swt bertepatan dengan kelahiran anak kelimanya hari itu. Anak itu kemudian diberi nama Umar. Namun karena sering sakit-sakitan, namanya pun diganti. Bayi ini seiring dengan bertambah usianya, menapaki jenjang demi jenjang pendidikan dengan kecerdasan yang dipuji para gurunya.