Bayi Terlahir di Puncak ‘Ncanga’ itu, Kini Profesor!

Prof.Dr.Abdullah Abd. Thalib, S.Ag., M.Ag.
Prof.Dr.Abdullah Abd. Thalib, S.Ag., M.Ag. “

“Jika melintas di tempat ini, saya jarang berhenti, Pak Doktor. Saya selalu terkenang almarhumah Ibu saya,” katanya sembari terisak kecil yang membuat saya pun ikut larut. Terenyuh.
Dia terdiam beberapa saat, sebelum menunjuk sebuah batu besar di depan kami.

“Batu inilah, tempat almarhumah Ibu bersandar, saat awal merasakan sakit perutnya,” Abd. Halik melanjutkan, bernostalgia, mengenang peristiwa 53 tahun silam di lereng “ncanga” itu dan merapat ke batu besar tersebut.

Di ladang “ncanga” keluarga Abd.Thalib selain menanam padi, juga menanam tanaman tumpang sari seperti jagung, jawawut, latu (sejenis gandum), “ponda” (labu), “bue” (kacang panjang), dan “uba mea” (okrah). “Latu” ini ada dua jenis. Ada yang berwarna ungu-kecokelatan dan ada yang lembek. Batang “latu” ini mengandung air gula.

Anak-anak kecil di kampung-kampung dulu biasa memotong-motong batangnya, kemudian membelahnya kecil-kecil, baru dikunyah-kunyah untuk mendapatkan cairan manisnya. Mirip mengisap dan menyesap belahan kecil batang tebu untuk memperoleh cairan manisnya.

Tanaman tumpang sari itu sangat bermanfaat bagi kehidupan para peladang selama musim tanam padi. Umur tanaman itu terkadang jauh lebih muda atau bersamaan dengan usia padi saat dipanen.

BACA JUGA:  KHOTBAH FILSAFAT HIDUP LEWAT LAGU

Namun, usai padi dipanen, tanaman-tanaman tumpang sari itu tetap berproduksi. Labu misalnya, selain dapat dikonsumsi, baik direbus, juga dapat menjadi sayur. Dicampur dengan daun tanaman tumpang sari lainnya, seperti daun kacang panjang.
Abd. Halik kembali bernostalgia.

Hari itu, masih terasa dingin di lereng “ncanga”, saat. dia, ayah, Ibu, Suhartati, dan Asmah, dua saudaranya, mulai melaksanakan aktivitas rutinnya. Mengurusi tanaman padi yang mulai mendekati berbulir. Agenda hari itu adalah menyiangi tanaman padi dari tanaman pengganggu (gulma).

“Hui” (bahasa Bima, siangi) dulu bagian barat yang di sebelah sana,” pesan, Abd.Thalib, ayahnya sebelum meninggalkan “ncanga” pagi hari itu.

Mungkin dia sudah melihat keadaan rumput yang tumbuh di tengah lebatnya padi ladang yang sedang berbunga tersebut, sehingga menyarankan kepada istri dan anak-anaknya terlebih dulu membersihkan di bagian yang dia sebutkan.

Lonceng menunjuk pukul 07.00 usai Abd.Thalib berkata dan mulai bergerak ke selatan. Ditemani beberapa anjing pemburu yang tangguh dan terlatih, dia melangkah ke arah selatan desa. Melewati jalan setapak, lalu mendaki di antara dua bukit yang lereng di bawahnya dipisahkan oleh sebuah sungai kecil, Kalero.

BACA JUGA:  Bekerja di Radio Bukan Hanya Jadi Penyiar

Bukit itu tampak biru dilihat dari lereng “ncanga”. Itu namanya Ramu, tempat Abd.Thalib biasa berburu. Rupanya, dua bukit yang dipisahkan oleh sungai itulah disebut “ncanga”, bercabang.

Ketinggian dua bukit ini hampir sama. Kalau pun berbeda, tidak teralu jauh.
Belum berapa lama Abd.Thalib pergi, Suhartati yang berusia 14 tahun, Abd. Halik (12), dan Asmah (11), menemani Hafsah, ibunya, mulai menyiangi padi ladang yang bersiap berbuah.

Orang Bima menyebut kegiatan menyiangi tanaman padi dari tanaman pengganggu (gulma) disebut hui. Matahari pagi yang masih sejuk ditingkahi semilir angin gunung, menyertai ibu dan tiga anak ini menyiangi tanaman padi dengan penuh semangat. Apalagi matahari belum terlalu terik.

Tiba-tiba, belum lama membungkuk dan tangan mereka mencabuti tanaman pengganggu, terdengar suara lirih Hafsah.

“Perutku sakit..Perutku sakit,” katanya sembari memegang perutnya yang memang sudah hamil tua.
“Kalau sakit perut, istirahat saja dulu. Nanti kami bertiga yang akan melanjutkan pekerjaan ini,” kata Halik kepada ibunya.

Hafsah mungkin lupa menghitung bulan karena sibuk mengurusi tanaman padi ladang. Perempuan tangguh ini memang termasuk menjadi tulang punggung keluarga mengurusi sebagian pekerjaan sebagai petani, selama hari-hari suaminya, Abd.Thalib, pergi ke hutan berburu rusa. Hafsah adalah seorang perempuan desa yang rajin bekerja. Dia tidak mau berpangku tangan.