Anak-Anak Gaza Kehilangan Kemampuan Bicara, Dunia Kehilangan Nurani

Anak-anak Gaza
Anak-anak Gaza (ilustrasi)

Oleh: Afifa Afra Amatulla (Mahasiswa)

Makassar, NusantaraInsight — Di tengah reruntuhan bangunan dan dentuman bom yang tiada henti, ada penderitaan lain yang tak kalah mengerikan di Gaza. Bukan hanya tubuh yang terluka, tetapi jiwa anak-anak yang perlahan-lahan hancur. Bahkan sebagian besar dari mereka kehilangan kemampuan berbicara akibat trauma yang begitu berat.

Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk menyatakan bahwa “Tidak ada satupun anak di Gaza yang tidak mengalami trauma”. Katrin telah melakukan dua misi kemanusiaan ke Gaza pada 2024 dan 2025 bersama Médecins Sans Frontières (MSF), untuk melayani anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara akibat konflik. “Ada lebih dari satu juta anak yang menderita trauma parah”. Akibat perang serta serangan yang terus-menerus berlangsung. BBC News Indonesia.id 29 Mei 2026.

Trauma yang dialami oleh anak-anak di Gaza tidak boleh kita abaikan, trauma tersebut terjadi disebabkan oleh konflik serta serangan agresif yang dilakukan oleh Zionis-Israel. Tak cukup hanya dengan menghancurkan seluruh infrastruktur yang ada, bahkan generasi masa depan Palestina-pun mereka hancurkan baik fisik maupun mental. Setiap saat anak-anak di Gaza menyaksikan keluarga, teman dan orang yang meraka kasihi meninggal dengan cara yang paling mengenaskan. Setiap saat mereka menyaksikan tumpahan darah; potongan-potongan organ yang terpisah dengan tubuhnya; merasakan ketakutan; menahan rasa sakit, lapar dan haus.

BACA JUGA:  Drs.Basman,S.H.,M.M, Bukan Orang Baru di PGRI Palopo

Jika peperangan ini masih terus berlanjut dalam waktu lama, mereka takkan pernah merasa aman dalam hidup dan akan senantiasa diselimuti oleh rasa takut, trauma yang mereka alami akan lebih parah. Ketika anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara karena trauma perang, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi apa yang terjadi pada mereka. Pertanyaannya adalah: sampai kapan dunia tetap memilih diam? Seolah dunia telah kehilangan nuraninya. Tak ada satupun pemimpin dari negeri-negeri muslim yang mampu menghentikan tindakan agresif Zionis-Israel tersebut.

Kita tidak bisa berharap pada lembaga Internasional seperti PBB, bahkan pada negeri-negeri muslim. Sebab PBB sudah sangat jelas terbukti gagal dalam melindungi Palestina dari serangan zionis. PBB hanya bisa mengecam tanpa tindakan nyata, dan faktanya PBB berada dalam dominasi AS sebagai pemengang hak veto sehingga sangat mustahil PBB berjalan ke arah yang tak dikehendaki AS.

Oleh karenanya solusi untuk mengakhiri derita anak-anak Gaza harus bersifat fundamental atau menyolusi akar masalahnya. Dan akar permasalahannya adalah pada keberadaan entitas Zionis yang menduduki tanah Palestina, entitas zionis harus dihempaskan dari tanah kaum muslim. Sebab selama entitas zionis masih menapakkan kaki di tanah kaum muslim, maka serangan akan terus terjadi.

BACA JUGA:  Catatan Jelang Peringatan HPN dan HUT PWI

Dan pembebasan Palestina dari pendudukan zionis hanya bisa direalisasikan di bawah pemerintahan Islam (Khilafah). Sebab dalam Islam pemimpin atau Khalifah bertugas untuk menyatukan seluruh kaum muslimin, dan memastikan rakyatnya hidup aman, damai dan sejahterah. Dalam situasi ini Khalifah akan menyatukan dan mengirimkan pasukan militer untuk melawan dan mengusir entitas zionis dari tanah suci kaum muslim.

Khalifah akan menjamin seluruh kebutuhan pokok, pendidikan, kemananan dan kesehatan bagi rakyatnya. Anak-anak Palestina akan dirawat fisik dan mentalnya hingga pulih dari trauma. Dan akan mengembalikan ruang yang aman dan nyaman bagi mereka.

Oleh karenanya, mari kita memahamkan umat bahwa dengan bersatunya kaum muslim di bawah naungan islam, maka seluruh persoalan global yang terjadi mempunyai solusi yang konkret.