Di Balik Peluncuran Edisi Revisi Buku “A.Amiruddin Nakhoda dari Timur” (6): Ditawari Pimpin Unhas, “Ada Minat?”

Amiruddin
Peluncuran Buku A.Amiruddin Nahkoda dari Timur

NusantaraInsight, Makassar — Yang saya ingat betul, persis ketika dia dari Malaysia pulang ke Ujungpandang menjenguk orang tuanya, pada waktu itu akan ada pergantian Rektor Unhas.

Pak Amiruddin lantas bertemu saya (Fachrudin). Lantaran mungkin di SMP berteman dekat, jadi ngomongnya juga enak.

Begitu bertemu, saya lantas mengatakan bahwa kepemimpinan Unhas akan kosong. Saya juga menyampaikan permasalahan pelik yang dihadapi Unhas. Saya katakan, keadaan itu sukar diatasi oleh orang-orang Unhas sendiri. Karena itu, menurut hipotesis saya, pemecahan masalah itu hanya dapat dilakukan oleh orang luar.

Ketika itu, saya langsung meledek dia:” Bagaimana? Ada minat?”. Pak Amiruddin tidak segera menjawab.

Tetapi, tidak lama kemudian, setelah di Malaysia, saya mendapat surat dari dia. Dalam surat itu dikatakan bahwa setelah mendengar problem Unhas, dia merasa senang untuk dapat memperoleh tantangan yang demikian.

Jadi, rupanya setelah kami ngomong-ngomong dulu itu, lantas ada yang “garap dari atas”.

Di dalam lingkungan Unhas, saya bersama-sama teman “menggarap”. Rasanya seru juga. Sebab, pemilihan rektor dulu berbeda dengan pemilihan rektor sekarang.

BACA JUGA:  Gagasan Bung Hatta tentang Makna Kemerdekaan

Pemilihan rektor pada saat itu cukup demokratis karena bukan hanya para anggota senat yang memilih, melainkan para dosen ikut juga memilih. Kalau sekarang Senat Universitas saja.

Jadi, sistem pemilihan ketika itu, memberikan kesempatan kepada golongan III ke atas untuk memilih rektornya. Saat itu yang ikut memilih sekitar 600 orang. Seperti pemilihan umum rasanya.

Di situ, saya dapat melihat sekaligus membuktikan bahwa masyarakat Unhas memang sedang memerlukan perubahan.

Saya anggap itu gejala yang baik. Yang mengherankan ialah tanggapan begitu besar dari masyarakat Unhas yang sebenarnya belum begitu mengenal Pak Amiruddin.

Jadi,hanya kita (teman sekelas) yang mengenal Pak Amiruddin dan waktu itu sudah di Unhas yang bercerita. Antara lain, seperti Said Sutte, Pakki Sallatu dan lain-lain.

Akhirnya waktu itu, kalau tidak salah, Pak Amiruddin mendapat suara lebih 90%. Hampir menang mutlak. Jadi, menurut saya, ketika itu memang Unhas memerlukan orang luar untuk memperbaiki keadaan.

Balik Berperan

Semua yang saya tuturkan itu hanya bagian kecil dari pengalaman saya bersama Pak Amiruddin.

BACA JUGA:  Mengenang Sarjan, Jakarta-Lombok Mudik Jalan Kaki

Namun, satu hal perlu diungkap sebagai sejarah hidup kami, yaitu mengenai “Yayasan Pendidikan Latimojong” (YPL). Dulu di Pulau Jawa kami mendapat beasiswa dari YPL. Setelah semua kembali ke Ujungpandang, kami mencoba melihat kembali dan membina yayasan itu.

Kami temukan kenyataan bahwa nama yayasan itu masih ada dan asrama-asrama juga masih kelihatan. Namun, sesungguhnya yayasannya itu sendiri tidak aktif lagi.

Karena pendirinya masih ada, terutama Pak Saleh Lahade, maka Pak Amiruddin yang telah menjabat Rektor Unhas berupaya menghidupkan kembali yayasan itu.

Bagaimanapun tidak dapat dihindari, tidak dapat disangkali bahwa boleh dikata kami “jadi orang” karena dibantu oleh YPL tersebut. Katakanlah, misalnya, Pak Amiruddin bisa menjadi rektor karena sedikit banyaknya YPL pernah berperan dalam hidupnya. Saya pun demikian. Sejak SMA hingga duduk di perguruan tinggi saya dibantu oleh YPL.

Jadi, kami berusaha pada saat itu untuk “balik berperan”. Karena yayasan pada pemerintah — saat itu ditangani Gubernur — maka tidak terlalu mudah untuk secepatnya bertindak. Akhirnya, sebelum mengaktifkan YPL, kami mendirikan dulu “Yayasan Pendidikan Unhas”.

BACA JUGA:  Program Informasi dengan Pendekatan ATM

Di yayasan yang disebutkan yang terakhir, kami memberikan bantuan pinjaman kepada para mahasiswa yang mau menyelesaikan studinya dan mengalami kesulitan untuk menggarap tesisnya.