Kami temukan kenyataan bahwa nama yayasan itu masih ada dan asrama-asrama juga masih kelihatan. Namun, sesungguhnya yayasannya itu sendiri tidak aktif lagi.
Karena pendirinya masih ada, terutama Pak Saleh Lahade, maka Pak Amiruddin yang telah menjabat Rektor Unhas berupaya menghidupkan kembali yayasan itu.
Bagaimanapun tidak dapat dihindari, tidak dapat disangkali bahwa boleh dikata kami “jadi orang” karena dibantu oleh YPL tersebut. Katakanlah, misalnya, Pak Amiruddin bisa menjadi rektor karena sedikit banyaknya YPL pernah berperan dalam hidupnya. Saya pun demikian. Sejak SMA hingga duduk di perguruan tinggi saya dibantu oleh YPL.
Jadi, kami berusaha pada saat itu untuk “balik berperan”. Karena yayasan pada pemerintah — saat itu ditangani Gubernur — maka tidak terlalu mudah untuk secepatnya bertindak. Akhirnya, sebelum mengaktifkan YPL, kami mendirikan dulu “Yayasan Pendidikan Unhas”.
Di yayasan yang disebutkan yang terakhir, kami memberikan bantuan pinjaman kepada para mahasiswa yang mau menyelesaikan studinya dan mengalami kesulitan untuk menggarap tesisnya.
YPL kemudian dapat kami benahi. Hal tersebut dapat terlaksana setelah pengurus lama bersedia menyerahkan kepengurusan kepada Pak Amiruddin.
Karena itu, dibentuklah pengurus baru dengan Pak Amiruddin sebagai ketuanya. Saya sendiri sebagai sekretaris. Dari kampus Unhas pun ada beberapa orang yang menjadi pengurus. Pikiran kami saat itu ialah bahwa membenahi YPL itu penting sekali.
Tugas pembenahan YPL merupakan amanat dari orang-orang tua kita dahulu sekaligus amanat untuk pembentukan manusia-manusia terdidik di Sulawesi Selatan. Dengan kata lain, YPL adalah salah satu penopang pembentukan sumber daya manusia Sulawesi Selatan.
Ternyata “orang-orang tua” kita dulu sudah menyadari bahwa pembangunan tidak dapat dilepaskan dari pengembangan sumber daya manusia. Mereka mendirikan YPL yang pada waktu itu masih sangat sederhana sekali.
Mungkin saat itu mereka berpikir bahwa sebentar lagi orang-orang Belanda akan pergi sehngga struktur organisasi pemerintahan di Sulawesi Selatan harus diisi oleh “orang-orang kita” yang terdidik.
Begitulah mungkin pandangan mereka ketika hendak mendirikan YPL di Yogyakarta dulu. Saat pendirian YPL itu ada Pak Ratulangi yang konon kurang lebih berkata begini:
“Itu anak-anak Sulawesi Selatan berpotensi tinggi. Cuma, selama ini mereka tidak diberi peluang atau kesempatan. Berilah mereka kesempatan, maka dalam waktu singkat mereka akan maju”.
Pandangan itu, memang ada benarnya dan rupanya itulah yang antara lain menimbulkan tekad “orang-orang tua” kita untuk mendirikan YPL.












