AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak Ngopi

Ada pula di luar Makassar, yaitu Phoenam Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Phoenam Kahfi, Jakarta Selatan, dan Phoenam Kopkar Tonasa, Pangkep.

“Selain cabang-cabang itu, bukan Phoenam asli 1946,” tegas Deddy mengingatkan dalam tulisannya.

Iwan Azis mengaku, lebih dari separuh hidupnya dia hanya mengunjungi Warkop Phoenam. Tidak ada warkop lain, dalam ingatannya.

“Saya tidak pernah bergeser dari Phoenam, sebelum ini,” tandasnya.

*Merasa Senyawa dengan Warkop Azzahrah*

Iwan Azis menyadari, seiring usianya yang sudah berkepala delapan, dia tak lagi se-mobile dahulu, saat aktivitasnya masih menuntut dia harus ke berbagai tempat. Meski demikian, kebiasaannya ke warung kopi tak berubah.

Warkop Azzahrah, tempat di mana kami kerap bertemu, kini menjadi langganannya. Warkop dengan konsep warna mencolok merah, kuning, dan hijau ini, memulai bisnisnya dari Jalan Ujung, tahun 2008.

Azzahrah Coffee Shop & Traditional Cake lalu punya cabang di Jalan Bandang. Warkop yang fokus pada kualitas rasa kopi dan kue-kue tradisional ini, saat ini tumbuh sebagai jaringan waralaba yang ada di hampir semua sudut Kota Makassar.

BACA JUGA:  Senja, Kelapa Muda, dan Percakapan yang Tak Ingin Cepat Usai di Danau GTC

Setiap kali ke Warkop Azzahrah, dia akan menelepon beberapa orang untuk ngopi bareng, termasuk saya. Pesanannya pun macam-macam, mulai dari telur setengah matang, pisang, ubi goreng, atau french fries. Menjelang sore, daftar pesanannya bertambah, berupa intel alias Indo Mie telur.

“Saya pilih Azzahrah karena sudah sesuai dengan selera saya. Sebab, tidak semua warkop bisa memenuhi kebutuhan kita. Di sini saya malah merasa senyawa dengan pelayannya. Bahkan kalau saya protes pun pelayannya bisa memaklumi. Mereka cuma senyum-senyum,” pungkas Iwan Azis memberi alasan. (*)