AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak Ngopi

Legenda yang hidup di dataran tinggi Ethiopia (Abyssina) sekira tahun 850 Masehi itu, memang menjadi titik awal kehadiran kopi. Meski begitu, kopi kemudian berkembang dan populer di Yaman, sebagai pusat pengolahan.

Kopi dibudidayakan secara komersial, tak lepas dari kebutuhan kaum sufi. Mereka perlu ngopi agar bisa lebih konsentrasi saat ibadah malam.

Karena itu, jangan heran, bila tradisi minum kopi untuk melek begadang masih berlangsung hingga kini.

Bedanya, dahulu, kaum sufi ngopi biar lebih tahan beribadah, sedangkan sekarang orang minum kopi begadang buat nonton sepak bola atau cuma untuk main kartu domino hehehe.

Dalam sejarahnya, Pelabuhan Al-Makha atau Mocha di Yaman menjadi pusat perdagangan utama kopi pada abad ke-15 hingga abad ke-17. “Mocha” sinonim untuk kopi berkualitas tinggi.

Dari Yaman lantas menyebar secara internasional ke Makkah, Madinah, Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Konstantinopel. Yaman belakangan dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman, pada abad ke-16.

Kepada Iwan Azis yang selalu mengajak ketemu untuk ngopi, saya menyampaikan bahwa tengah mempersiapkan buku bertema kopi. Sehingga artikel di media online dan tayangan terkait kopi di YouTube jadi santapan saya.

BACA JUGA:  Di Balik Peluncuran Edisi Revisi Buku “A.Amiruddin Nakhoda dari Timur” (8): Sang Penoreh Keteladanan

Misalnya, di salah satu kanal yang menjelajahi Wereldmuseum, Rotterdam, Belanda, ditampilkan arsip, bagaimana kopi bisa masuk Indonesia.

Di museum etnografi itu ditertulis bahwa kopi–yang dalam bahasa Belanda disebut koffie–didatangkan oleh kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ke Indonesia, tahun 1696.

Tertulis secara jujur bahwa mata-mata yang bekerja untuk VOC menyelundupkan kopi keluar dari Yaman yang, kala itu, memiliki monopoli atas perlindungan kopi.

Uji coba pertama menanam kopi di Kedawung, dekat Batavia, tahun 1696, gagal akibat bencana alam. Dilanjutkan upaya kedua, tahun 1699, Belanda kembali menanam stek kopi di berbagai tempat di Batavia dan daerah-daerah yang sekarang masuk wilayah Jawa Barat.

Hanya dalam tempo 15 tahun, tanaman kopi asal Indonesia (Hindia Belanda), mengejutkan dunia. Selain di Jawa, tanaman kopi juga ditanam di berbagai daerah di Nusantara.

Pada tahun 1711, Bupati Cianjur, Aria Wira Tanu III, mengapalkan sebanyak 4 kuintal kopi ke Amsterdam. Ekspor perdana ini langsung memecahkan rekor harga lelang di sana. Di tahun 1726, tidak kurang dari 2.145 ton kopi dari Pulau Jawa membanjiri Eropa.

BACA JUGA:  Momon, Tukang Catut Bioskop, dan Al Pacino

Kopi asal Jawa seketika memikat dunia, dan mengalahkan kopi Mocha asal Yaman yang sebelumnya menguasai pasar. Sejak saat itu, kopi asal Pulau Jawa dikenal dengan nama Java Coffee.

Mengenal Tiga Generasi Pemilik Warkop Phoenam

Sejak masih belia Iwan Azis sudah mengenal Warkop Phoenam. Saat warkop ini masih di Jalan Nusantara, lalu pindah ke Jalan Jampea, sekarang Jalan Ho Eng Djie, kemudian membuka cabang di Jalan Boulevard, Panakkukang Mas.