News  

Sastra Indonesia FIB Unhas Bersilaturahim ke Kebun Denassa

Edukasi tentang wisata berkelanjutan di Kebun Denassa menjadi salah satu konsen utamanya. Setiap pengunjung akan diajak membawa bekal makan dan minuman sehat dan sumbernya dari pangan serta buah lokal, tanpa menggunakan wadah sekali pakai berbahan plastik. Melarang membawa wadah dari gabus (streofoam). Pengelola menyiapkan gelas untuk digunakan dengan air (putih, teh, dan air es) untuk mengisi ulang tumbler. Tamu tidak diperkenankan menggangu hewan dan tumbuhan dalam area.

Edukasi keanekaragaman hayati juga menjadi sesi seru di Kebun Denassa, dikenalkan aneka tumbuhan dan tanaman yang berfungsi sebagai sumber pangan, penawar, atau berfungsi sebagai bahan baku kosmetik dan kelengkapan tradisi (hajatan, ritual, dan pemanfaatan lain yang spesifik).

Terdapat area tanaman rempah dekat restoran pematang agar tamu bisa melihat tanamannya saat menikmati sajian makanan yang didalamnya terdapat aneka rempah khas Bugis-Makassar dan nusantara.

Ada tanaman aromatik untuk aneka tanaman penghasil aroma khas nan unik dan lazim digunakan secara luas, tapi mungkin belum bertemu langsung tanamannya.

BACA JUGA:  Medio November 2025, Pengurus KMBS Dilantik

Ada juga spot konservasi penghasil warna yang telah dipakai sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam di nusantara. Pewarna alami dari tanaman untuk makanan, minuman, benang, kain, dan rumah.

Edukasi keanekaragaman hayati menjadi pintu masuk mengingatkan generasi masa kini bahwa kita adalah bangsa yang besar, memiliki puluhan ribu pulau, dengan ribuan suku dan bahasa, budaya dan tradisi yang beragam yang masing-masing memiliki keunikan dan kekhasan, yang kita warisi dari para leluhur dan pengalaman kita tumbuh bersama alam di sekitar kita khususnya interaksi kita dengan hewan dan tumbuhan yang kita temui, tanam, rawat, makan, dan gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Keanekaragaman hayati kita merupakan Kekayaan hayati yang tak ternilai harganya, menjadi identitas dan ikon daerah, wilayah, dan bangsa.

Melalui sesi belajar keanekaragaman hayati kami mengingatkan bahwa kita adalah bangsa besar, negara dengan tingkat keaneragaman hayati terbesar kedua di dunia, karenanya kita salah satu negara megabiodiversity dunia, Kita harus menjadi penentu, menjadi yang terdepan dari penyelematan dan keberlanjutan kehidupan di bumi dengan lestarinya keanekaragaman hayati. Sebab dari sana sumber pangan, penawar (obat), sumber ajar, dan inspirasi kehidupan ditemukan.

BACA JUGA:  PW ISWI Sulsel Akan Gelar Lomba Tarian Baris Line Dance

Usai menerima tamunya, Darmawan Daeng Nassa mengajak para tamunya melihat berbagai tanaman koleksinya dan menjelaskan muasal tanaman tersebut dan manfaatnya. Tamunya kemudian dijamu dengan menggunakan ‘piring’ yang berupa hamparan daun pisang sebagai tempat nasi dan lauk diletakkan. (mda).