Syafruddin Mualla sepakat dengan pandangan Jamaluddin, dan menambahkan bahwa pembangunan ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan lingkungan dan keterlibatan pengusaha lokal.
“Penting untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Selain itu, pemerintah daerah harus melibatkan pengusaha lokal dalam proses pembangunan ini agar manfaatnya bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat,” ujarnya.
*Kawasan Ekonomi Khusus di Bira dan Takabonerate*
Salah satu gagasan menarik yang muncul dalam pertemuan tersebut adalah potensi Bira dan Takabonerate sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Syafruddin Mualla menekankan pentingnya menjadikan kawasan tersebut sebagai sentra ekonomi baru yang bisa mendukung pemerataan pembangunan di Sulawesi Selatan. Kawasan Ekonomi Khusus di Bira dan Takabonerate diharapkan dapat menjadi pusat pariwisata, perikanan, dan industri maritim yang bisa memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal.
“Jika Bira dan Takabonerate bisa dijadikan KEK, ini akan menjadi game-changer bagi Bulukumba dan Sulawesi Selatan. Ini tidak hanya akan meningkatkan pariwisata, tetapi juga memperkuat sektor ekonomi lain seperti perikanan dan industri maritim,” jelas Syafruddin Mualla.
JMS menambahkan bahwa KEK di Bira dan Takabonerate juga bisa menjadi solusi bagi masalah pemerataan ekonomi. Menurutnya, jika kawasan ini dikembangkan dengan baik, maka manfaat ekonominya bisa dirasakan tidak hanya oleh Bulukumba, tetapi juga oleh daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan.
“Kita harus mendorong pemerataan ekonomi, dan KEK bisa menjadi salah satu solusinya. Dengan adanya KEK, kita bisa menarik investor besar yang bisa menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan perekonomian daerah,” tambah JMS.
Optimalisasi PDAM dan Penyediaan Air Bersih
Selain membahas ekonomi dan investasi, isu lain yang menjadi perhatian utama dalam pertemuan ini adalah masalah air bersih di Bulukumba. JMS menyoroti pentingnya optimalisasi PDAM agar dapat beroperasi lebih efisien dan menguntungkan dalam dua tahun ke depan. Ia berpendapat bahwa PDAM Bulukumba harus bisa menyediakan air yang layak minum langsung dari keran, sehingga masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada air galon yang lebih mahal.
“Jika PDAM bisa dikelola dengan baik, masyarakat tidak perlu lagi membeli air galon. Mereka bisa langsung menikmati air bersih yang lebih murah, sehat, dan layak minum dari PDAM. Ini juga akan membantu menekan biaya hidup masyarakat,” kata JMS.
Ia juga menyebut bahwa air bersih yang terjangkau sangat penting bagi kawasan wisata seperti Bira. Menurutnya, dengan harga air yang lebih murah, biaya operasional hotel juga bisa ditekan sehingga harga akomodasi di kawasan wisata dapat menjadi lebih kompetitif.
Peran Penting BUMN dan Asosiasi Bisnis
JMS menegaskan bahwa keterlibatan berbagai pihak, termasuk BUMN, asosiasi bisnis, dan profesi seperti Kadin, Asita, PHRI, dan Hipmi, sangat penting dalam memajukan perekonomian Bulukumba. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan asosiasi bisnis akan mempercepat pembangunan ekonomi di Bulukumba, baik dalam sektor pariwisata, industri, maupun infrastruktur.
“Kolaborasi ini sangat penting. Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita perlu melibatkan semua pihak, baik itu BUMN, pengusaha lokal, maupun asosiasi bisnis, untuk memperkuat perekonomian Bulukumba,” jelas JMS.
Ia juga sepakat dengan Syafruddin Mualla wacana pembentukan perusahaan daerah yang kuat dan kokoh, yang dapat menguntungkan pemerintah daerah dan masyarakat. Menurutnya, perusahaan daerah yang dikelola dengan baik akan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pemerintah daerah dan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.












