News  

Prof.Dr.Ahmad Thib Raya, M.A: Puasa Ramadan Sarana Tingkatkan Kualitas Iman & Amal Saleh

Pengganti Sementara Rektor UIN Alauddin Makassar 2015 itu mengatakan, perayaan Idul Fitri pada hari ini merupakan perayaan tasyakkuran dan perwujudan kegembiraan kita atas keberhasilan memenangkan dua hal itu, yaitu (1) lolosnya kita dari penataran/training dalam mengendalikan hawa nafsu, dan (2) lolosnya kita dari perlombaan beribadah selama sebulan penuh.

Dia menyebutkan, nafsu yang bercokol di dalam diri setiap manusia memiliki dua potensi sebagai fitrah yang diciptakan Allah untuk manusia, yaitu (1) potensi jahat, yang disebut oleh Alquran sebagai “fujūr”, dan (2) potensi baik yang disebut sebagai “taqwā”.

“Dua potensi ini merupakan motor penggerak yang mendorong manusia untuk melakukan 2 macam perbuatan, yaitu perbuatan jahat atau perbuatan baik. Potensi “fujur” senatiasa mendorong manusia untuk berbuat jahat dan potensi “taqwa” senantiasa mendorong manusia untuk berbuat baik,” kata Ahmad Thib Raya.

Perbuatan yang baik yang dilakukan oleh seseorang, sebut Ahmad Thib Raya, merupakan perwujudan dari dorongan potensi baiknya. Sebaliknya, perbuatan jahat yang dilakukannya merupakan perwujudan dari dorongan potensi jahatnya. Tidak terkendalinya nafsu kepada yang baik akan melahirkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Seseorang dapat melakukan apa saja yang diinginaknnya, jika nafsunya tidak terkendali dengan baik. Potensi fujur yang ada di dalam nafsu itulah yang harus dibelokkan dan diarahkan kepada potensi baik.

BACA JUGA:  Syukuran Pahlawan Nasional Sultan Muhammad Salahuddin di Depan Istana Bima

“Hawa nafsu (keinginan jiwa) manusia tidak terbatas. Dia ingin memiliki segalanya. Jika nafsu tidak terkendali kepada yang baik, maka ia akan mengambil segala sesuatu itu tanpa melihat, apakah sesuatu itu merupakan haknya atau hak pihak lain. Yang penting baginya, adalah semuanya menjadi miliknya. Para sufi menggambarakan bahwa hati manusia, di mana nafsu itu bercokol, lebih besar dan lebih luas daripada dunia dan isinya. Pada hal hati itu secara fisik hanyalah sebesar kepalan tangan manusia, tidak lebih dari itu,” ungkapnya.

Ahmad Thib Raya selanjutnya mengemukakan, begitu besarnya hawa nafsu manusia, sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Allah pernah memperlihatkan kepada manusia 7 lembah yang semuanya berisi emas. Ketika manusia meminta lembah pertama, Allah memberinya. Setelah habis lembah pertama dengan isinya, manusia meminta kepada Allah agar diizinkan pindah ke lembah yang kedua.

Manusia memanfaatkan lembah kedua itu hingga habis. Lalu manusia meminta untuk pindah ke lembah yang ketiga, hingga habis isinya. Demikianlah permintaan manusia, sampai habis lembah yang ketujuh dengan segala isinya. Setelah itu, manusia bertanya dan meminta kepada Allah, masih adakah lembah-lembah yang lain lagi?