News  

Pangkas Kesenjangan Literasi-Inklusi Keuangan, OJK Sulselbar Gandeng Jurnalis PWI Sulsel

Arif menitipkan harapan agar sinergi bersama PWI Sulsel ke depannya tidak mandek sebagai agenda seremonial belaka, melainkan bertransformasi menjadi kolaborasi jangka panjang dalam membentuk kesadaran finansial publik. Pers diharapkan konsisten mengawal dinamika industri jasa keuangan sekaligus menjadi kompas informasi yang mengarahkan masyarakat menjadi konsumen yang cerdas.

“Akselerasi tingkat literasi keuangan akan membuahkan dampak yang jauh lebih dahsyat apabila digarap secara gotong royong. OJK memegang kendali pada fungsi regulasi, pengawasan, dan materi edukasi, sedangkan pers memegang kekuatan besar dalam mendiseminasikan informasi secara masif kepada publik,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PWI Sulsel, Ir. H. Suwardi Thahir, M.I.Kom, menyampaikan bahwa pers memiliki peran vital sebagai jembatan penerjemah antara dinamika ekonomi-keuangan dengan realitas masyarakat bawah. Oleh karenanya, PWI Sulsel siap berpasangan dengan OJK Sulselbar melalui berbagai terobosan, salah satunya lewat program peningkatkan kapasitas wartawan.

“PWI Sulsel siap bahu-membahu bersama OJK Sulselbar dalam memperkuat literasi keuangan publik. Agenda ini mencakup penyelenggaraan pelatihan khusus bagi jurnalis agar makin piawai membaca data ekonomi serta menyajikannya menjadi berita yang menarik,” tutur Suwardi.

BACA JUGA:  Kolaborasi Jatim-Kaltara Hasilkan Transaksi Rp 2,5 Triliun di Tarakan

Ia mengakui bahwa meracik narasi ekonomi untuk dikonsumsi publik bukanlah perkara yang gampang. Terdapat beragam jargon teknis serta konsep finansial yang tergolong rumit, sehingga membutuhkan keahlian analisis tersendiri sebelum dapat disajikan menjadi bacaan yang ringan dan komunikatif.

“Menerjemahkan bahasa istilah ekonomi agar mudah dipahami masyarakat awam itu tidak sederhana. Membaca indikator ekonomi butuh kejelian tersendiri,” sebutnya.

Oleh karena itu, wartawan dituntut memiliki bekal kompetensi yang solid dalam membedah data dan informasi finansial sebelum melemparkannya ke ruang publik. Keterampilan tersebut sangat krusial agar berita yang ditulis tidak sekadar berisi deretan angka kaku, melainkan mampu mengurai makna mendasar serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.

Suwardi meyakini bahwa penguatan kapasitas jurnalis di ranah ekonomi dan keuangan bakal memperkokoh fungsi media sebagai sarana edukasi publik yang tepercaya. Dengan wawasan yang makin matang, para wartawan akan sanggup mengulas isu-isu produk maupun layanan keuangan secara presisi, lugas, dan kontekstual.

“Kemitraan PWI dan OJK ini kami harapkan tidak hanya melejitkan mutu jurnalistik ekonomi, tetapi juga turut memantik kesadaran masyarakat agar makin familier dengan dunia keuangan. Dengan demikian, muatan informasi yang disajikan media dapat membantu pembaca dalam mengambil keputusan finansial secara lebih cermat dan bijaksana,” pungkasnya. (*)