KAHMI Buka Puasa di Kediaman Pak JK

Pedagang yang datang ke Indonesia dari Gujarat atau dari China itu, cirinya adalah senang berkawan. Kedua, membawa ajaran sufistik, tasawuf.

Tasawuf itu nyambung dengan ajaran Hindu Budha yang lebih pada pendekatan meditatif. Tasawuf dan Hindu itu mirip. Karena tidak berbenturan, satu mentalnya pedagang, dan sufistik sehingga akan terjadi hubungan pergaulan yang lunak.

Islam yang masuk ke Indonesia itu tanpa darah dan pedang. Di luar sana mesti meninggalkan masalah karena berkaitan dengan penaklukan. Di Indonesia Islam berkembang dengan damai.

Juga Islam itu masuk dari Sumatra dan menggunakan bahasa Melayu yang merupakan bahasa perdagangan.

Penyebaran bahasa Melayu dan penyebaran dagang dan agama Islam itu serempak menjadi satu. Pusatnya di kota-kota pantai, dari Banten, Semarang, Surabaya, Makassar, Ternate, dan semua kota-kota di pantai.
Di situ pusat Islam, pusat dagang, dan penyebaran bahasa Melayu.

Oleh karena itu kesatuan Nusantara yang besar ini salah satu pilar yang menyatukan itu adalah kesamaan agama dan bahasa. Kalau kita bicara sosiologis, karena ada dua etnis saling tidak senang, kecuali mereka Islam. Jadi yang mengikat antarpulau itu adalah kesamaan agama dan bahasanya.

BACA JUGA:  Pegawai Kemendikti Saintek Demo Menterinya

Sehingga, politik bahasa nasional yang paling berhasil di dunia itu adalah Indonesia. Malaysia dan India kalah. Indonesia menggunakan bahasa Indonesia.

Di antara peran bahasa Indonesia sehingga bersinergi dengan Islam dan perdagangan, karena memiliki egalitarian (egaliter). Islam adalah pemegang paham egalitarian. Mengapa tidak terjadi bentrok karena pulau-pulau di Indonesia itu masing-masing subur. Ini berbeda dengan kondisi alam ketika Islam datang ke Timur Tengah. Terjadi perang antarsuku dan luar biasa.

Bahkan Nabi Muhammad saw hijrah dari Mekkah ke Madinah, diharapkan menjadi pemersatu suku-suku yang sudah berapa keturunan tidak rampung-rampung masalahnya. (mda).