Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat?
Sebab tidak semua persoalan berada dalam kemampuan pemerintah untuk diselesaikan sendirian. Apalagi bencana alam yang diluar kemampuan manusia untuk mencegahnya.
Negara adalah sebuah sistem besar. Pemerintah memiliki tugasnya. Dunia usaha mempunyai perannya. Akademisi memiliki tanggung jawab intelektual. Ulama dan tokoh agama mempunyai fungsi pembinaan moral. Media memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi. Organisasi masyarakat memiliki ruang pengabdian. Dan setiap warga negara memiliki kewajiban sesuai kapasitasnya masing-masing.
Karena itu, membangun bangsa sebenarnya tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Juga perlu dilakukan dalam skala kecil dan sederhana.
Seorang pengusaha, misalnya. Ia tidak harus menunggu menjadi pejabat untuk memberikan kontribusi kepada negara. Ketika ia menjalankan usahanya dengan jujur, tidak melakukan perdagangan ilegal, tidak mengakali konsumen, membayar pajak sesuai ketentuan, memperlakukan pekerjanya dengan baik dan menciptakan lapangan pekerjaan, sesungguhnya ia sedang ikut mengurusi bangsa ini.
Begitu pula seorang pejabat. Kontribusi terbesarnya bukan sekadar membuat pidato tentang pembangunan. Ia dapat memulainya dari dirinya sendiri: menjalankan amanah, menggunakan kewenangan sesuai aturan, tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, serta memastikan pelayanan publik berjalan sebagaimana mestinya.
Seorang guru juga mempunyai medan perjuangannya sendiri. Ketika ia mendidik murid dengan sungguh-sungguh, mengajarkan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab dan rasa hormat kepada sesama, ia sebenarnya sedang membangun Indonesia dari ruang kelas.
Seorang ulama atau juru dakwah pun memiliki peran yang sangat besar. Dakwah tidak semestinya hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah secara ritual, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang baik. Bagaimana menjaga kejujuran, menghormati orang lain, tidak mengambil hak orang lain, menjaga lingkungan, mencintai bangsa dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
*Seorang penulis memiliki jalannya sendiri*
Ia dapat mengingatkan ketika ada sesuatu yang perlu dikritik. Ia dapat menawarkan gagasan ketika ada masalah. Ia dapat menghidupkan harapan ketika masyarakat mulai kehilangan optimisme.
Maka menulis pun sesungguhnya dapat menjadi bentuk pengabdian.
Barangkali inilah salah satu alasan saya merasa bahwa para penulis, akademisi dan cendekiawan perlu lebih serius menggunakan pena mereka. Jangan biarkan ruang publik hanya dipenuhi kemarahan.
Kita membutuhkan gagasan. Jangan biarkan media sosial hanya menjadi tempat saling mencaci. Kita membutuhkan percakapan yang sehat. Jangan sampai kritik hanya menghasilkan kegaduhan. Kita membutuhkan kritik yang sekaligus membawa jalan keluar.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang tidak hanya pandai menunjukkan masalah, tetapi juga bersedia ikut memikirkan penyelesaiannya.Pada akhirnya, persoalan bangsa sesungguhnya juga merupakan persoalan kita masing-masing.
Kita sering berbicara tentang bagaimana memperbaiki negara, tetapi lupa memperbaiki diri sendiri. Kita berharap pejabat jujur, tetapi apakah kita sudah jujur dalam kehidupan sehari-hari? Kita berharap perdagangan berlangsung adil, tetapi apakah kita sebagai pelaku usaha sudah memperlakukan pelanggan dengan adil? Kita menginginkan masyarakat yang berkarakter, tetapi apakah kita sudah memberikan teladan yang baik kepada keluarga dan lingkungan? Kita menginginkan Indonesia yang bersih dari korupsi, tetapi apakah kita berani menolak mengambil sesuatu yang bukan hak kita?












