News  

Kepala Dinas PPPA Makassar Jadi Narasumber Sekolah Ramah Anak di SD Unismuh

Makassar, NusantaraInsight – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar, drg. Ita Isdiana Anwar, menjadi narasumber dalam kegiatan Sekolah Ramah Anak yang digelar di SD Unismuh Makassar, Rabu (29/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan guru, staf pengajar, dan perwakilan orang tua siswa. Dalam paparannya, Ita menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak.

“Sekolah Ramah Anak bukan sekadar label, tetapi komitmen nyata untuk menjamin hak-hak anak terpenuhi di lingkungan pendidikan. Ini mencakup keamanan fisik, psikologis, serta partisipasi aktif anak dalam proses belajar,” ujar Ita di hadapan peserta.

Ia juga menyoroti data kasus kekerasan terhadap anak di Makassar sepanjang 2025 yang mencapai 762 kasus atau sekitar 62 persen dari total 1.222 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Angka ini menunjukkan urgensi penguatan perlindungan anak di berbagai lini, termasuk sekolah.

Menurut Ita, program Sekolah Ramah Anak harus diimplementasikan secara holistik. Tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana dan prasarana, tetapi juga membangun budaya sekolah yang menghargai hak anak, mencegah perundungan (bullying), dan mendorong partisipasi siswa dalam pengambilan keputusan.

BACA JUGA:  Kenangan Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima : Dari Penjual Ikan Hingga Cerita Cinta

“Guru dan orang tua memiliki peran strategis. Komunikasi yang baik di rumah dan sekolah menjadi benteng utama agar anak tidak rentan mencari perhatian di luar yang berpotensi membahayakan,” tambahnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Makassar dalam memperkuat ekosistem perlindungan anak melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk lembaga pendidikan. DPPPA Makassar berencana menggelar roadshow serupa di sejumlah sekolah dasar lainnya dalam waktu dekat.

SD Unismuh Makassar sendiri telah berkomitmen menjadi sekolah ramah anak dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran yang aksesibel selama 24 jam dan menggali potensi siswa secara optimal.