Ketua KMBS NTB Dr. Ibrahim Ahmad, S.E,, M..Si, Ak. CA mengemukakan kisah awalnya pelaksanaan kegiatan ini yang kemudian memilih digelar di hotel.
“Kita selama ini melaksanakan kegiatan seperti ini di kampus -kamus UIN Alauddin dan YPUP serta beberapa tempat lainnya, namun kali ini dilaksanakan di hotel. Memang ada kekhawatiran kita tidak mampu, namun dengan jiwa dan semangat besar warga Bima di Sulsel, akhirnya kegiatan ini dilaksanakan di hotel berbintang,” ujar mantan Ketua Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Yayasan Pendidikan Ujung Pandang (YPUP) ini.
Ibrahim Ahmad mengatakan, jika kita tidak memiliki jiwa dan semangat besar untuk melaksanakan sesuatu, jelas kegiatan besar seperti ini tidak akan dapat dilaksanakan. Dan, kita hanya akan melaksanakan kegiatan yang kecil-kecil saja.
“Orang Bima di Sulsel ini mampu melaksanakan sesuatu secara bersama-sama. Profesornya saja sudah 18 orang dalam berbagai disiplin ilmu. Mereka yang bergelar doktor malah dua kali lipat dari jumlah menjabat Profesor,” ujar Ibrahim Ahmad yang baru setahun menjabat Ketua KMBS Nusa Tenggara Barat tersebut setelah beberapa tahun silam juga pernah memimpin organisasi kerukunan masyarakat diaspora Bima ini.
Penceramah Halal Bihalal Ir.H. Ilah Muhammad, S.Ag. menyebutkan, orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan “laa ilaaha illallah” pastilah lahir pada dirinya selain mampu mengendalikan hawa nafsunya, juga akan bersikap tawaddu’, orang yang senantiasa merendahkan dirinya kepada Allah. Tidak ada di dalam dirinya sifat angkuh, sombong, dan dia selalu merendahkan dirinya kepada Allah swt. Artinya, membuka dirinya dengan segala hal, termasuk terhadap sesama orang lain tanpa memandang status sosial.
“Tidaklah seseorang yang memiliki sifat tawaddu, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dan keimanan yang ada pada dirinya. Imanya bertambah kuat dan tidak terpengaruh dengan apa yang menimpa dirinya,” ujar lulusan Sarjana Teknik Mesin Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini.
Pria kelahiran Kampung Bugis Sape Bima ini menyebutkan, apapun yang menghantam seorang yang memiliki sikap merendahkan diri kepada Allah baik dengan harta benda dan jabatan, tidak akan pernah goyah sekali pun. Bahkan, imannya dijaga oleh Allah. Bagaimana caranya, orang yang tawaddu itu selalu dilindungi Allah.
“Jika dia melakukan atau berkata yang tidak baik, akan selalu berkata “astagfirullahul adzim. Orang yang tawaddu dan melaksanakan halal bihalal ini adalah Allah mengangkat akhlaknya. Mereka ini adalah orang-orang yang selalu merendahkan diri yang di dalam bahasa Mbojo (bahasa Bima), ‘maja labo dahu” (malu dan takut) ” ujar ayah empat anak tersebut.













